Paham Gerakan dan Makna Bacaan Sholat Adzan dan Iqamah

RIWAYAT KEEMPAT

Adzan dan Iqamah


Setiap shalat lima waktu didahului oleh adzan—panggilan yang sudah berkumandang lima kali sehari di seluruh dunia, terus-menerus, sejak zaman Rasulullah ﷺ sampai hari ini. Tidak ada satu detik pun di muka bumi ketika tidak ada adzan yang sedang dikumandangkan—karena ketika di Indonesia sudah Maghrib, di Eropa baru Ashar, di Amerika masih Dhuhur, di Australia mendekati Subuh.

Bayangkan: nama Allah dipanggil tanpa henti, dari ujung timur ke ujung barat dunia, lima kali sehari, oleh miliaran muslim. Itulah adzan. Bukan sekadar pemberitahuan waktu shalat—dia adalah deklarasi.

Sejarah Adzan — Mimpi yang Diwahyukan

Adzan punya kisah lahirnya yang menarik. Di awal Islam, ketika para sahabat baru hijrah ke Madinah, mereka kebingungan: bagaimana cara memanggil orang untuk shalat berjamaah? Beberapa usul muncul:

Ada yang mengusulkan menggunakan terompet, seperti orang Yahudi. Ada yang mengusulkan lonceng, seperti orang Nasrani. Ada yang mengusulkan menyalakan api di tempat tinggi sebagai tanda. Rasulullah ﷺ tidak puas dengan satupun—semuanya mirip dengan tradisi agama lain.

Lalu suatu malam, seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid bermimpi. Dalam mimpinya, dia melihat seorang lelaki membawa lonceng. Dia bertanya, “Untuk apa lonceng itu?” Lelaki itu menjawab, “Untuk memanggil orang shalat.” Abdullah berkata, “Maukah kau kuajari yang lebih baik dari itu?” Lalu lelaki itu mengajarinya lafal-lafal adzan.

Abdullah terbangun, dan langsung pergi menemui Rasulullah ﷺ. Beliau mendengarkan ceritanya, lalu bersabda: “Ini mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah dan ajarkan kepada Bilal, sebab suaranya lebih indah darimu.” (HR. Abu Dawud)

Sejak saat itu, Bilal bin Rabah menjadi muadzin Rasulullah ﷺ. Suaranya yang lantang dan merdu, lahirnya seorang budak yang dimerdekakan, menjadi suara pertama yang memanggil seluruh Madinah ke shalat lima waktu.

Lafal Adzan — Kalimat demi Kalimat

Inilah lafal adzan yang dikumandangkan lima kali sehari, dengan terjemahan dan jumlah pengulangannya. Hafalkan, dan resapi maknanya—karena setiap kali kamu mendengar adzan, kamu sedang mendengar deklarasi keimanan.

Lafal ArabLatinTerjemahUlang
اللَّهُ أَكْبَرُAllāhu akbarAllah Maha Besar
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُAsyhadu allā ilāha illallāhAku bersaksi tiada Tuhan selain Allah
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِAsyhadu anna Muḥammadan rasūlullāhAku bersaksi Muhammad utusan Allah
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِḤayya ‘alaṣ-ṣalāhMari menuju shalat
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِḤayya ‘alal-falāḥMari menuju kebahagiaan
اللَّهُ أَكْبَرُAllāhu akbarAllah Maha Besar
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُLā ilāha illallāhTiada Tuhan selain Allah

Total: 15 kalimat dalam adzan biasa. Tiap kalimat punya tugasnya sendiri—dari menyatakan kebesaran Allah, mengaku tiada Tuhan selain-Nya, mengakui kerasulan Muhammad ﷺ, mengundang ke shalat, dan menutup dengan tauhid.

Yang Khusus untuk Subuh — Tatswib

Adzan Subuh punya satu tambahan istimewa yang tidak ada di shalat lain. Setelah “Hayya ‘alal Falāḥ”, muadzin menambahkan dua kalimat:

ArabLatinTerjemah
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِAṣ-ṣalātu khairum minan-nawmShalat itu lebih baik daripada tidur.

Diucapkan dua kali, dan posisinya tepat antara “Hayya ‘alal Falāḥ” dan “Allāhu Akbar” yang kedua. Tambahan ini disebut tatswib—dari kata “tsawwaba”, yang berarti kembali atau diulang.

Mengapa khusus Subuh? Karena Subuh adalah satu-satunya waktu shalat ketika muadzin tahu, dengan pasti, bahwa banyak orang yang mendengar adzannya sedang dalam keadaan tidur. Maka panggilan ini ditambahkan: shalat itu lebih baik daripada tidur.

Bukan untuk mengejek, bukan untuk merendahkan tidur. Tidur itu nikmat dari Allah—dan tubuh memang butuh istirahat. Tapi pada saat tertentu, ada nikmat yang lebih besar dari nikmat istirahat: nikmat berdiri di hadapan Allah saat sebagian besar dunia masih terlelap.

Asal usul tambahan ini: dalam riwayat dari Bilal sendiri, suatu pagi dia datang adzan Subuh. Dia menyaksikan Rasulullah ﷺ masih tidur. Maka dia ucapkan kalimat ini—aṣ-ṣalātu khairum minan-nawm. Rasulullah ﷺ mendengarnya, tersenyum, lalu menetapkan tambahan ini sebagai sunnah dalam adzan Subuh untuk seterusnya.

Cara Menjawab Adzan

Mendengar adzan bukan momen pasif. Ada adab khusus yang dianjurkan: menjawab. Setiap kalimat yang muadzin ucapkan, kamu ulang dengan suara lirih—kecuali dua kalimat yang dijawab berbeda.

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar panggilan (adzan), ucapkan seperti yang diucapkan muadzin.”

— HR. Bukhari & Muslim —

Maka untuk semua kalimat adzan, kamu mengucap persis seperti yang muadzin ucapkan. Kecuali untuk dua kalimat ini—yang punya jawaban khusus:

ArabLatinTerjemah
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِḤayya ‘alaṣ-ṣalāh(Yang muadzin ucapkan)
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِLā ḥawla wa lā quwwata illā billāhTidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. (Jawabanmu)
ArabLatinTerjemah
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِḤayya ‘alal-falāḥ(Yang muadzin ucapkan)
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِLā ḥawla wa lā quwwata illā billāhTidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. (Jawabanmu)

Mengapa berbeda? Karena dua kalimat itu adalah ajakan—mari ke shalat, mari ke kebahagiaan. Kalau kamu hanya mengulang persis, seakan kamu mengajak diri sendiri. Tapi dengan menjawab “lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh”, kamu menyatakan: ya, aku akan datang—tapi bukan dengan kekuatanku, melainkan dengan pertolongan Allah.

Dan untuk adzan Subuh secara khusus, ketika muadzin mengucap “aṣ-ṣalātu khairum minan-nawm” dua kali, jawabanmu juga khusus:

ArabLatinTerjemah
صَدَقْتَ وَبَرَرْتَṢadaqta wa barartāEngkau benar, dan engkau orang baik.

Walaupun pendapat lain menganjurkan tetap mengulang seperti yang dikatakan muadzin. Keduanya boleh.

Doa Setelah Adzan

Setelah muadzin selesai dan kamu pun selesai menjawab, ada doa khusus yang sangat dianjurkan. Doa ini punya keutamaan luar biasa—siapa yang membacanya akan mendapat syafaat Rasulullah ﷺ di hari kiamat.

Pertama, bacalah shalawat untuk Rasulullah ﷺ:

ArabLatinTerjemah
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍAllāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli MuḥammadYa Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.

Kemudian, doa khusus setelah adzan:

ArabLatinTerjemah
اللَّهُمَّ رَبَّ هَٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُAllāhumma rabba hādzihid-da‘watit-tāmmah, waṣ-ṣalātil-qā’imah, āti Muḥammadanil-wasīlata wal-faḍīlah, wab‘atshu maqāmam-maḥmūdanil-ladzī wa‘adtahYa Allah, Rabb dari panggilan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia di tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ… حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa membaca doa ini ketika mendengar adzan, dia berhak mendapatkan syafaatku di hari kiamat.”

— HR. Bukhari —

Syafaat Rasulullah ﷺ di hari kiamat adalah salah satu hadiah terbesar yang seorang muslim bisa harapkan. Dan dia datang—gratis—setiap kali kamu meluangkan setengah menit untuk membaca doa ini setelah adzan.

Iqamah — Adzan Pendek Sebelum Shalat

Iqamah adalah panggilan kedua, yang dikumandangkan tepat sebelum shalat dimulai—untuk meminta para jamaah segera berdiri membentuk shaf. Lafalnya hampir sama dengan adzan, hanya lebih ringkas dan dengan tambahan satu kalimat khusus.

Lafal ArabLatinTerjemahUlang
اللَّهُ أَكْبَرُAllāhu akbarAllah Maha Besar
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُAsyhadu allā ilāha illallāhAku bersaksi tiada Tuhan selain Allah
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِAsyhadu anna Muḥammadan rasūlullāhAku bersaksi Muhammad utusan Allah
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِḤayya ‘alaṣ-ṣalāhMari menuju shalat
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِḤayya ‘alal-falāḥMari menuju kebahagiaan
قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُQad qāmatiṣ-ṣalāhShalat telah ditegakkan
اللَّهُ أَكْبَرُAllāhu akbarAllah Maha Besar
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُLā ilāha illallāhTiada Tuhan selain Allah

Yang khas dari iqamah: kalimat “qad qāmatiṣ-ṣalāh” (shalat telah ditegakkan) yang tidak ada di adzan. Begitu kalimat ini diucapkan, semua jamaah berdiri dan imam mulai memimpin shalat.

Iqamah lebih cepat ritmenya daripada adzan—adzan dipanjangkan kalimat demi kalimat untuk menarik perhatian dari jauh, sementara iqamah pendek-pendek karena yang mendengar sudah hadir di masjid dan tinggal berdiri.

Bila Tinggal di Tempat Tak Terdengar Adzan

Tidak semua muslim hari ini hidup di lingkungan yang adzannya terdengar lima kali sehari. Ada yang tinggal di kompleks perumahan jauh dari masjid. Ada yang di apartemen tinggi dengan jendela tertutup. Ada yang di kota dengan mayoritas non-muslim. Ada yang sedang traveling di negara Barat.

Bagaimana cara mengetahui waktu shalat di kondisi seperti ini? Beberapa solusi praktis:

Aplikasi shalat di hp—Muslim Pro, Athan, Al-Moazin, Salah, dll. Aplikasi ini sangat akurat dan memberi adzan otomatis. Beberapa bisa mengubah HP-mu jadi muadzin pribadi.

Smart watch dengan fitur shalat—Apple Watch, Samsung, dan banyak smartwatch sekarang punya aplikasi shalat yang terhubung dengan lokasi.

Speaker pintar—Alexa, Google Home, dan smart speaker lain bisa diatur untuk memberi panggilan shalat sesuai waktu lokasi.

Pasang adzan di rumah—boleh banget memutar rekaman adzan di rumah saat waktu masuk. Selain mengingatkan, suaranya juga membawa berkah ke rumah.

Jadwal cetak—di banyak masjid Indonesia ada jadwal shalat bulanan yang bisa dicetak. Tempel di kulkas atau dinding kamarmu.

Yang penting: jangan jadikan ketiadaan adzan eksternal sebagai alasan tertinggalnya shalat. Di zaman ini, dengan teknologi yang ada, tidak ada alasan untuk tidak tahu waktu shalat. Solusinya selalu ada—tinggal kemauan.

Adab dan Kesalahpahaman Seputar Adzan

Beberapa hal yang sering disalahpahami tentang adzan:

Pertama, adzan tidak harus dengan suara merdu. Yang utama adalah jelas dan benar lafalnya. Kalau memang ada orang yang lebih merdu, dia diutamakan—seperti Bilal di zaman Nabi ﷺ. Tapi kalau di rumah atau di tempat tertentu hanya kamu yang ada, kamu yang adzan—walaupun suaramu pas-pasan.

Kedua, adzan bisa dilakukan sendiri di rumah. Kalau kamu mau memulai shalat sendirian dan tidak ada masjid yang adzannya terdengar, kamu boleh adzan sendiri (cukup pelan), lalu iqamah, lalu shalat. Bahkan ini dianjurkan—Rasulullah ﷺ dulu memerintahkan sahabat yang traveling: kalau sudah masuk waktu shalat, salah satu kalian adzan.

Ketiga, perempuan boleh adzan—tapi hanya untuk kaum perempuan saja, atau untuk diri sendiri. Tidak boleh adzan di tempat di mana laki-laki ajnabi (bukan mahram) bisa mendengar suaranya. Ini tetap masuk dalam aturan tentang suara perempuan dalam Islam.

Keempat, saat adzan berkumandang, kita dianjurkan untuk diam dan menjawab. Tapi—dan ini sering disalahpahami—tidak haram berbicara saat adzan kalau memang ada keperluan mendesak. Yang dianjurkan adalah mendengarkan dengan adab. Bukan keharaman mutlak.

Kelima, ada kepercayaan bahwa setan lari saat adzan. Ini benar—berdasarkan hadits shahih:

إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّىٰ لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila dikumandangkan adzan, setan lari sampai tidak mendengar adzan, dengan mengeluarkan suara seperti kentut.”

— HR. Bukhari & Muslim —

Itu sebabnya banyak orang yang merasa lebih tenang setelah adzan—suara setan yang biasa membisikkan di telinga mereka, sementara terhalang. Itu nikmat yang sering tidak disadari.