Paham Gerakan dan Makna Bacaan Sholat Tata Cara Shalat Ashar

RIWAYAT KETIGA

Tata Cara Shalat Ashar


Riwayat ini akan menjadi yang terpendek dari semua Riwayat tata cara di seri ini. Mengapa? Karena tata cara Ashar sama persis dengan Dhuhur. Empat rakaat, sirriyah (bacaan dalam hati), tasyahud awal di rakaat kedua, tasyahud akhir di rakaat keempat. Semuanya identik.

Yang berbeda hanya satu: niatnya. Niat Dhuhur jadi niat Ashar. Itu saja. Sisanya, kamu bisa kembali ke Jilid III Riwayat Ketiga untuk refresher detail langkah demi langkah.

Tapi karena Riwayat ini singkat, izinkan aku memanfaatkan ruang yang ada untuk menyoroti hal-hal yang khas Ashar dalam pelaksanaannya—yang mungkin tidak terlalu menonjol di Dhuhur.

Niat Shalat Ashar

Niat di hati saat takbiratul ihram:

ArabLatinTerjemah
أُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَىUṣallī farḍal-‘aṣri arba‘a raka‘ātin mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālāAku shalat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat, sebagai pelaksanaan kewajiban, karena Allah Ta’ala.

Tambahan: kalau jadi makmum, tambahkan “ma’mūman”. Kalau jadi imam, “imāman”. Kalau shalat sendiri, niat di atas sudah cukup.

Yang berbeda dari niat Dhuhur cuma satu kata: aẓ-ẓuhr (Dhuhur) diganti dengan al-‘aṣr (Ashar). Hafal niat Dhuhur → hafal niat Ashar.

Ringkasan Tata Cara Empat Rakaat

Karena sudah dibahas detail di Jilid III, di sini aku ringkaskan saja. Kalau ada yang lupa, kembali ke sana.

Rakaat 1:

Takbiratul ihram → doa iftitah → ta’awwudz → al-Fatihah → surat pendek (semua dalam hati)

Ruku → i’tidal → sujud → duduk → sujud → bangkit

Rakaat 2:

Bismillah → al-Fatihah → surat pendek

Ruku → i’tidal → sujud → duduk → sujud → duduk tasyahud awal → bangkit

Rakaat 3:

Bismillah → al-Fatihah saja (tanpa surat)

Ruku → i’tidal → sujud → duduk → sujud → bangkit

Rakaat 4:

Bismillah → al-Fatihah saja (tanpa surat)

Ruku → i’tidal → sujud → duduk → sujud → duduk tasyahud akhir → shalawat → doa perlindungan → salam

Sama persis dengan Dhuhur. Total: 5-7 menit untuk shalat tanpa terburu-buru.

Bacaan Sirriyah — Kembali ke Diam

Sama seperti Dhuhur, Ashar dilakukan dengan bacaan dalam hati (sirriyah). Al-Fatihah dan surat pendek dibaca dengan suara yang hanya cukup untuk telingamu sendiri—bukan untuk orang lain di sekitarmu.

Ini berlaku untuk semua empat rakaat Ashar. Dari awal sampai akhir, bacaan dalam hati. Hanya “Sami’allahu liman hamidah” yang dibaca keras oleh imam (kalau berjamaah), dan salam di akhir.

Hikmah Ashar sebagai shalat sirriyah, sama dengan Dhuhur: dia jatuh di waktu siang yang ramai. Bacaan keras tidak relevan secara sosial—malah tenggelam di tengah hiruk-pikuk. Maka Allah mengaturnya dalam hati.

Tapi ada satu nuansa khas Ashar: karena dia jatuh di sore, di waktu yang biasanya orang sudah lebih tenang dari kesibukan puncak siang—kamu punya kesempatan lebih baik untuk khusyuk. Pikiran mulai melambat. Tekanan deadline mulai mereda. Tubuh mungkin lelah, tapi hati lebih siap hadir.

Manfaatkan ini. Ashar adalah peluang khusyuk yang sering tidak disadari. Coba shalat Ashar dengan tempo yang sedikit lebih lambat. Tuma’ninah yang sedikit lebih panjang. Rasakan bedanya.

Imam Bacanya Apa di Ashar?

Untuk yang menjadi imam atau ingin tahu pola bacaan Rasulullah ﷺ di Ashar:

Berdasarkan riwayat Abu Sa’id Al-Khudri dan Jabir bin Abdullah, Nabi ﷺ biasanya membaca surat-surat berikut di Ashar:

Rakaat 1: Surat panjang sedang—sekitar 30 ayat dari surat-surat seperti At-Tariq, Al-Buruj, atau Al-Insyiqaq.

Rakaat 2: Surat lebih pendek dari rakaat 1—sekitar 15-20 ayat.

Rakaat 3-4: Hanya al-Fatihah, tanpa surat tambahan (kecuali pendapat sebagian ulama yang membolehkan).

Bandingkan dengan Dhuhur: Dhuhur biasanya lebih panjang dari Ashar. Inilah polanya—Dhuhur (lebih panjang) → Ashar (lebih pendek) → Maghrib (lebih pendek lagi) → Isya (sedang) → Subuh (yang paling panjang).

Kalau kamu makmum yang mengikuti imam, kamu tidak perlu khawatir. Cukup ikut imam membaca al-Fatihah, lalu diam dan dengarkan surat yang dibaca imam. Surat-surat ini, walaupun sirriyah, akan tetap terdengar lirih oleh barisan depan—itu cara Nabi membaca yang “middle ground”.

Setelah Salam — Apa Selanjutnya?

Setelah salam shalat Ashar, ada beberapa amal yang dianjurkan sebelum kamu beranjak dari sajadah. Sama dengan Dhuhur, tapi dengan satu nuansa khas: setelah Ashar ada “jendela emas” yang akan kita bahas detail di Riwayat tersendiri (Dzikir Setelah Ashar).

Singkatnya, urutan pasca-salam:

Istighfar 3x: Astaghfirullāh, astaghfirullāh, astaghfirullāh.

Allāhumma antas-salām wa minkas-salām…

Dzikir 100x: Subhānallāh (33x), Alhamdulillāh (33x), Allāhu akbar (33x), Lā ilāha illallāh (1x).

Ayat Kursi.

Doa pribadi singkat.

Tapi yang khas Ashar: setelah dzikir basic ini, jangan langsung pergi! Tetap di tempat shalat sebentar untuk membaca wirid sore (al-Ma’tsurat Petang) atau dzikir pagi-petang lainnya. Waktu antara Ashar dan Maghrib adalah salah satu waktu mustajab dalam hari—doa-doa naik dengan cepat saat itu.

Detail wirid sore akan dibahas di Riwayat Keenam Jilid ini. Untuk sekarang, cukup tahu bahwa: jangan buru-buru pergi setelah Ashar. Ada lebih banyak yang bisa kamu lakukan untuk maksimalkan keberkahan.

Hal yang Sering Dilupakan di Ashar

Karena Ashar dilakukan dalam kondisi lelah, ada beberapa hal yang sering dilupakan atau dilakukan dengan sembrono. Hati-hati dengan yang berikut:

Tuma’ninah yang dipotong. Kelelahan membuat orang mempercepat ruku, sujud, duduk. Padahal tuma’ninah adalah rukun—kalau dipotong terlalu cepat, shalat tidak sah.

Al-Fatihah dibaca terburu-buru. Pastikan tetap jelas pengucapannya, walau dalam hati. Setiap huruf harus terdengar oleh telingamu sendiri.

Tasyahud awal yang terlewat. Karena ngantuk sore, banyak yang lupa duduk tasyahud awal di rakaat 2 dan langsung bangkit ke rakaat 3. Kalau ini terjadi, lakukan sujud sahwi sebelum salam.

Ngantuk saat sujud. Sujud yang terlalu lama di sore bisa berujung ketiduran sejenak—terutama kalau habis makan siang berat. Tetap tuma’ninah, tapi jangan terlalu lama sampai pikiran melayang.

Tergesa salam karena ingin pulang. Setelah tasyahud akhir, baca shalawat dan doa perlindungan dengan lengkap. Jangan loncat ke salam.

Penutup — Singkat Karena Sederhana

Itulah tata cara Ashar dalam ringkasan. Singkat—karena memang sederhana. Sama dengan Dhuhur, hanya berbeda niat.

Tapi jangan sampai “sederhana” menjadi “sembarangan”. Justru karena tata caranya sederhana, fokus utamamu di Ashar harusnya pada kualitas: tuma’ninah, khusyuk, hadir hati. Yang membedakan Ashar yang “sekadar sah” dengan Ashar yang “diterima dengan baik” bukan tata caranya, tapi caramu melakukannya.