RIWAYAT KETUJUH
Shalat Sunnah Situasional
Riwayat ini mengumpulkan lima shalat sunnah yang dilakukan saat ada sebab tertentu. Bukan rutin harian, mingguan, atau tahunan—tapi muncul ketika ada situasi spesifik yang menjadi pemicunya. Bisa jadi setahun beberapa kali, bisa jadi seumur hidup hanya sekali.
Lima shalat ini sering kurang dikenal muslim Indonesia, padahal sangat berguna untuk momen-momen penting dalam hidup. Mari kita kenali satu per satu: Istikharah saat butuh petunjuk, Hajat saat punya kebutuhan besar, Tahiyatul Masjid saat masuk masjid, Gerhana saat fenomena alam, dan Istisqa saat musim kemarau panjang.
1. Shalat Istikharah
Istikharah artinya “meminta yang terbaik dari Allah”. Shalat ini dilakukan saat menghadapi pilihan atau keputusan besar dan tidak yakin mana yang terbaik.
Kapan dilakukan: saat ada keputusan penting yang ragu—pilihan kerja, pasangan, rumah, sekolah, investasi, pindah kota, atau apapun yang berdampak besar pada hidup. Untuk hal sepele (mau makan apa, mau pakai baju yang mana), tidak perlu Istikharah.
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ…
“Jika salah seorang di antara kalian punya keperluan (yang ragu mengambil keputusan), hendaklah dia shalat dua rakaat (selain shalat wajib), lalu mengucapkan (doa Istikharah)…”
— HR. Bukhari —
Tata cara Istikharah:
• Niat: “Ushalli sunnatal-istikhārati rak’ataini lillāhi ta’ālā” (Aku shalat sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah).
• Rakaat 1: Al-Fatihah + Al-Kafirun (“Qul ya ayyuhal-kāfirūn”).
• Rakaat 2: Al-Fatihah + Al-Ikhlas (“Qul huwallāhu aḥad”). Surat-surat ini sunnah karena temanya tentang ikhlas dan tawhid—meminta hanya kepada Allah.
• Setelah salam, baca doa Istikharah yang khusus.
Doa Istikharah lengkap:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ | Allāhumma innī astakhīruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratika, wa as’aluka min faḍlikal-‘aẓīm. Fa innaka taqdiru wa lā aqdiru, wa ta’lamu wa lā a’lamu, wa anta ‘allāmul-ghuyūb. | Ya Allah, sungguh aku meminta pilihan terbaik dari-Mu dengan ilmu-Mu, meminta kekuatan dari-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan meminta karunia-Mu yang besar. Karena sungguh Engkau Maha Berkuasa sementara aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui sementara aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui yang gaib. |
Lanjutan doa (sebutkan urusan/keputusan yang dimaksud):
“Allāhumma in kunta ta’lamu anna hādzal-amra [SEBUTKAN HAL/KEPUTUSAN] khairan lī fī dīnī wa ma’āsyī wa ‘āqibati amrī… faqdurhu lī wa yassirhu lī tsumma bārik lī fīh. Wa in kunta ta’lamu anna hādzal-amra syarran lī fī dīnī wa ma’āsyī wa ‘āqibati amrī… faṣrifhu ‘annī waṣrifnī ‘anhu, waqdur liyal-khaira ḥaitsu kāna tsumma arḍinī bih.”
Artinya: “Ya Allah, jika Engkau tahu urusan ini [sebutkan] baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku—maka tetapkan untukku, mudahkan, dan berkahi. Tapi jika Engkau tahu urusan ini buruk untukku—maka palingkan dariku dan palingkan aku darinya, tetapkan untukku kebaikan di mana pun adanya, lalu jadikan aku ridha dengannya.”
Saat kalimat “hādzal-amra” (urusan ini), kamu sebut dalam hati keputusan yang sedang dipertimbangkan—misalnya: “menerima pekerjaan ini”, “menikah dengan dia”, “membeli rumah ini”.
2. Shalat Hajat
Shalat Hajat dilakukan saat kamu punya kebutuhan/permintaan khusus kepada Allah—bukan sekadar minta petunjuk (itu Istikharah), tapi minta supaya sesuatu terwujud.
Kapan dilakukan: saat kamu sangat butuh sesuatu yang hanya Allah bisa kabulkan—minta kesembuhan dari sakit, minta rezeki yang lapang, minta jodoh, minta anak, minta dimudahkan urusan yang berat, dan sebagainya.
مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَى اللَّهِ حَاجَةٌ، أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ، فَلْيَتَوَضَّأْ، وَلْيُحْسِنِ الْوُضُوءَ، ثُمَّ لِيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ
“Barangsiapa punya kebutuhan kepada Allah, atau kepada salah satu anak Adam (manusia), hendaknya berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua rakaat.”
— HR. At-Tirmidzi (hasan) —
Tata cara Shalat Hajat:
• Wudhu dengan sempurna—lebih hati-hati dari biasa.
• Niat: “Ushalli sunnatal-ḥājati rak’ataini lillāhi ta’ālā” (Aku shalat sunnah Hajat dua rakaat karena Allah).
• Rakaat 1: Al-Fatihah + Ayat Kursi (atau surat pilihan yang dihafal).
• Rakaat 2: Al-Fatihah + 3 surat perlindungan (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas), atau surat pendek lain.
• Setelah salam: doa pujian + shalawat + doa permintaan yang spesifik.
Yang penting tentang Shalat Hajat:
• Lakukan dengan kekhusyukan ekstra—ini bukan shalat rutin, ini momen kamu “menangis” di hadapan Allah.
• Setelah salam, panjatkan doa dengan detail—sebutkan permintaanmu dengan jelas, jangan cuma umum.
• Awali doa dengan pujian kepada Allah, shalawat untuk Nabi, lalu permintaan.
• Ulangi shalat Hajat beberapa malam berturut-turut sampai permintaan terkabul atau hati merasa tenang.
• Tetap tawakal—Allah mungkin mengabulkan persis, mungkin mengganti dengan yang lebih baik, mungkin menundanya, atau mungkin menyimpan pahalanya untuk akhirat. Semuanya adalah jawaban.
Waktu terbaik Shalat Hajat: setelah Isya, di tengah malam (sebelum atau setelah tahajjud), saat sepertiga malam akhir. Tapi boleh kapan saja kecuali di waktu-waktu terlarang.
3. Shalat Tahiyatul Masjid
Tahiyatul Masjid artinya “penghormatan untuk masjid”. Shalat 2 rakaat singkat yang dilakukan saat masuk masjid sebelum duduk.
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka jangan duduk dulu sebelum shalat dua rakaat.”
— HR. Bukhari & Muslim —
Tata cara:
• Saat masuk masjid + masih berdiri (belum duduk).
• Niat: “Ushalli sunnata taḥiyyatil-masjidi rak’ataini lillāhi ta’ālā”.
• 2 rakaat singkat—cukup Al-Fatihah + surat pendek apa saja yang dihafal.
• Total waktu: 2-3 menit. Singkat dan ringan.
• Setelah salam, baru duduk.
Beberapa hal penting:
• Tidak perlu Tahiyatul Masjid kalau: kamu masuk masjid saat shalat berjamaah sudah iqamah—langsung ikut jamaah saja.
• Tidak perlu Tahiyatul Masjid kalau: kamu masuk masjid saat khatib sudah khutbah Jumat (cukup duduk dan dengarkan—kecuali pendapat sebagian ulama yang menganjurkan tetap 2 rakaat singkat).
• Tidak ada Tahiyatul Masjid setelah Subuh sampai matahari naik (waktu makruh shalat), dan setelah Ashar sampai Maghrib. KECUALI kalau masuk masjid di waktu-waktu itu—maka tetap dianjurkan untuk “penghormatan” masjid.
• Niat boleh digabung—kalau kamu mau shalat sunnah lain (rawatib, dll), niat itu sudah mencakup Tahiyatul Masjid sekaligus.
Hikmah Tahiyatul Masjid: setiap kali masuk “rumah Allah”, kamu menyatakan rasa hormat dengan tindakan, bukan hanya niat. Itu pendidikan untuk tidak menganggap remeh kunjungan ke masjid.
4. Shalat Gerhana (Kusuf/Khusuf)
Inilah shalat yang dilakukan saat fenomena alam khusus: gerhana matahari (kusuf) atau gerhana bulan (khusuf). Salah satu shalat sunnah yang paling spesifik—terikat dengan peristiwa langit.
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُموهُمَا فَصَلُّوا
“Sungguh matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau kelahirannya. Maka jika kalian melihat keduanya, shalatlah.”
— HR. Bukhari & Muslim —
Hadits ini turun karena ada gerhana matahari di hari wafatnya Ibrahim (anak Rasulullah). Banyak yang mengira gerhana itu “penghormatan” untuk Ibrahim. Nabi tegas membantah—gerhana adalah tanda Allah, bukan akibat peristiwa manusia.
Tata cara Shalat Gerhana sangat khas—berbeda dari shalat lain:
• Dilakukan berjamaah di masjid kalau memungkinkan.
• Tidak ada adzan dan iqamah. Hanya seruan: “Aṣ-ṣalātu jāmi’ah” (shalat berjamaah).
• 2 rakaat, tapi dengan dua kali ruku dan dua kali baca surat di setiap rakaat (4 ruku total—struktur yang sangat khusus).
• Bacaan jahriyah (keras) di gerhana bulan, sirriyah (sebagian ulama) atau jahriyah (sebagian ulama) di gerhana matahari.
• Setelah shalat, khutbah singkat dari imam tentang kebesaran Allah dan refleksi.
Rincian struktur 1 rakaat Shalat Gerhana:
• Takbiratul ihram + doa iftitah.
• Baca Al-Fatihah + surat panjang (idealnya Al-Baqarah atau setara).
• Ruku panjang.
• Bangkit i’tidal.
• BACA AL-FATIHAH + SURAT LAGI (lebih pendek dari yang pertama, misalnya Ali Imran).
• Ruku lagi (lebih pendek).
• Bangkit i’tidal, lalu sujud (2 sujud panjang dengan tasbih banyak).
Rakaat kedua: sama strukturnya, tapi bacaan lebih pendek dari rakaat pertama. Diakhiri tasyahud akhir + salam.
Total waktu Shalat Gerhana: sekitar 30-60 menit (atau sampai gerhana selesai). Imam menyesuaikan dengan durasi gerhana.
Saat gerhana berlangsung (sebelum, selama, dan setelah shalat), perbanyak: dzikir, istighfar, sedekah, takbir, doa. Ini momen mengingat kebesaran Allah.
5. Shalat Istisqa (Minta Hujan)
Shalat Istisqa dilakukan untuk meminta hujan saat musim kemarau panjang yang merusak. Untuk Indonesia, ini relevan saat El Niño yang menyebabkan kekeringan parah—kebakaran hutan, gagal panen, kekurangan air bersih.
Hukum: sunnah mu’akkadah saat kondisi kekeringan sudah parah.
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَسْقِي، فَحَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ، وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، يَدْعُو، ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ
“Rasulullah keluar (ke lapangan) untuk meminta hujan. Beliau berbalik (memunggungi) jamaah, menghadap kiblat, berdoa, lalu membalik selendangnya.”
— HR. Bukhari & Muslim —
Tata cara Shalat Istisqa:
• Diumumkan dulu kepada masyarakat—idealnya beberapa hari sebelumnya supaya orang bisa puasa dan bertobat dulu.
• Dilakukan di lapangan terbuka (kalau memungkinkan).
• Pakaian sederhana dan kotor (bukan pakaian terbaik)—ini tanda kerendahan dan pengakuan diri sebagai hamba yang butuh.
• Tidak ada adzan dan iqamah.
• Shalat 2 rakaat seperti shalat Ied: dengan takbir tambahan (7 di rakaat 1, 5 di rakaat 2). Atau menurut pendapat lain: 2 rakaat biasa tanpa takbir tambahan.
• Surat yang dianjurkan: Al-A’la di rakaat 1, Al-Ghasyiyah di rakaat 2.
• Setelah shalat: khutbah dari khatib. Banyak istighfar dan permohonan.
• Sunnah unik: membalik selendang/pakaian luar—kanan jadi kiri, kiri jadi kanan. Simbol harapan supaya situasi berbalik dari kemarau menjadi hujan.
Apa yang dianjurkan menjelang Istisqa:
• Bertobat dari dosa-dosa—kekeringan sering disebut dalam Al-Qur’an sebagai konsekuensi dosa kolektif.
• Memperbanyak istighfar.
• Berdamai dengan yang punya pertengkaran (silaturahmi).
• Memperbanyak sedekah, terutama kepada yang kekurangan air.
• Puasa selama beberapa hari sebelumnya (kalau memungkinkan).
• Membayar utang yang tertunda.
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا، يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka): Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”
— QS. Nuh [71]: 10-11 —
Ayat ini sangat tegas: istighfar adalah “penarik hujan”. Allah turunkan hujan kepada umat yang banyak istighfar. Inilah dasar kenapa Istisqa dipenuhi dengan istighfar dan tobat—bukan sekadar minta hujan.
Penutup — Lima Shalat untuk Lima Situasi
Itulah lima shalat sunnah situasional yang sayang dilewatkan saat ada sebabnya:
• Istikharah — saat menghadapi keputusan besar yang membingungkan.
• Hajat — saat punya kebutuhan/permintaan yang sangat penting.
• Tahiyatul Masjid — setiap kali masuk masjid (kebiasaan harian yang ringan).
• Gerhana — saat ada gerhana matahari atau bulan.
• Istisqa — saat kekeringan parah berkepanjangan.
Yang menarik dari kelimanya: mereka bukan rutinitas, tapi respons. Mereka muncul ketika situasi membutuhkannya. Mereka adalah cara Islam mengajarkan kita untuk “mengundang Allah” dalam momen-momen khusus hidup—saat butuh petunjuk, saat butuh pertolongan, saat masuk tempat suci, saat alam mengejutkan, saat bumi mengeluh kekeringan.
Yang Muslim sungguh-sungguh, dia mengenal kelima shalat ini. Bukan untuk dipraktikkan setiap hari—tapi untuk siap dipraktikkan saat dibutuhkan. Seperti payung yang kamu simpan di rumah—tidak setiap hari dipakai, tapi sangat bersyukur kalau tersedia saat hujan tiba-tiba turun.