Paham Gerakan dan Makna Bacaan Sholat Tarawih

RIWAYAT KEEMPAT

Tarawih


Inilah shalat sunnah yang paling khas Indonesia. Tidak ada momen ibadah yang lebih komunal dari tarawih di malam-malam Ramadan—saat masjid-masjid penuh sesak, ceramah singkat antar rakaat, jamaah yang berdesakan tapi tetap khusyuk. Untuk banyak muslim Indonesia, tarawih adalah “kenangan Ramadan” yang paling dalam.

Tapi tarawih bukan hanya tradisi budaya—dia adalah sunnah mu’akkadah yang Rasulullah ﷺ praktikkan dan dianjurkan untuk seluruh umat. Riwayat ini akan mengantarmu mengenal tarawih: apa itu, kapan dia mulai jadi tradisi, jumlah rakaatnya yang sering jadi sumber debat, dan cara melakukannya dengan optimal.

Apa Itu Tarawih?

Tarawih secara bahasa berarti “istirahat-istirahat” (jamak dari “tarwihah”—satu istirahat). Disebut demikian karena dilakukan dengan rehat sebentar setiap empat rakaat—untuk memberi kesempatan jamaah istirahat sejenak sebelum lanjut.

Secara istilah: shalat sunnah berjamaah yang dilakukan setelah Isya di malam-malam Ramadan, dengan jumlah rakaat tertentu.

Beberapa fakta penting tentang tarawih:

Dilakukan setelah shalat Isya, sebelum waktu tidur (atau sebelum tahajjud bagi yang mau).

Hanya di bulan Ramadan—tidak ada tarawih di bulan lain.

Sangat dianjurkan berjamaah, walaupun sah sendiri di rumah.

Sunnah mu’akkadah yang sangat ditekankan—Rasulullah ﷺ dan para sahabat sangat memperhatikannya.

Bisa dipandang sebagai “tahajjud Ramadan” karena fungsinya mirip—keduanya qiyamul lail.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat (tarawih) di bulan Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

— HR. Bukhari & Muslim —

Hadits ini adalah “pintu emas” Ramadan. Sebulan tarawih konsisten—semua dosa yang sudah lalu diampuni. Itu adalah kesempatan luar biasa yang Allah berikan kepada umat ini setiap tahun.

Sejarah Singkat Tarawih

Tarawih punya cerita yang menarik. Rasulullah ﷺ sendiri pertama kali melakukannya berjamaah hanya beberapa malam, lalu menghentikannya. Mengapa?

إِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمْ، وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا

“Sungguh aku mengetahui keadaan kalian (yang berkumpul untuk shalat malam Ramadan), tetapi aku khawatir shalat ini diwajibkan atas kalian, lalu kalian tidak mampu melakukannya.”

— HR. Bukhari & Muslim —

Inilah alasan Nabi menghentikan tarawih berjamaah—kekhawatiran bahwa Allah akan mewajibkannya kalau dilakukan terus-menerus. Lalu apa yang terjadi setelah Nabi wafat?

Di masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat orang-orang shalat tarawih sendiri-sendiri di masjid dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda. Umar berinisiatif mengumpulkan mereka di belakang satu imam (Ubay bin Ka’b). Inilah awal tarawih berjamaah yang terorganisir di seluruh masyarakat muslim—dan terus berlanjut sampai hari ini.

Komentar Umar yang terkenal saat melihat jamaah tarawih terorganisir:

نِعْمَتُ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini (tarawih berjamaah).”

— HR. Bukhari (riwayat dari Abdurrahman bin Abdul Qari) —

Kata “bid’ah” di sini dimaksudkan dalam arti positif—“tradisi baru yang baik”. Bukan bid’ah dalam arti negatif (mengada-ada dalam agama).

Berapa Rakaat Tarawih? Debat yang Tak Perlu

Pertanyaan paling sering tentang tarawih: berapa rakaat yang benar—20 atau 8? Mari kita jawab dengan adil.

Yang umum di Indonesia dan dunia muslim:

23 rakaat: 20 rakaat tarawih + 3 rakaat witir. Inilah yang Khalifah Umar tetapkan dan dipraktikkan ulama empat mazhab. Mayoritas masjid di Indonesia.

11 rakaat: 8 rakaat tarawih + 3 rakaat witir. Berdasarkan hadits Aisyah yang menyebut Nabi tidak pernah lebih dari 11 rakaat di Ramadan maupun di luar Ramadan.

Variasi lain: 36 rakaat (di Madinah klasik), 13 rakaat, dll.

Pendapat yang adil: keduanya sah. Yang 20 rakaat punya dasar dari praktik Umar dan ijma’ sahabat. Yang 8 rakaat punya dasar dari hadits Aisyah tentang shalat malam Nabi.

Yang penting bukan jumlah, tapi:

Kualitas: lakukan dengan khusyuk dan tuma’ninah, jangan tergesa.

Konsistensi: lakukan setiap malam Ramadan, jangan pilih-pilih.

Bermakna: pahami bacaan, hadirkan hati, jangan sekadar mengikuti gerakan.

Saran praktis: ikuti masjid yang biasa kamu pakai. Kalau masjidmu 20 rakaat, ikuti 20 rakaat. Kalau 11 rakaat, ikuti 11 rakaat. Tidak perlu pindah-pindah masjid berdasarkan jumlah rakaat. Yang penting kamu hadir berjamaah.

Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang ini, dijawab: “Ada keluasan dalam masalah ini. Jangan jadikan ini bahan perselisihan.”

Tata Cara Tarawih

Tata cara tarawih sama dengan shalat sunnah dua rakaat biasa—diulang sampai jumlah yang diinginkan. Yang khas tarawih:

Selalu 2-2 dengan salam di setiap pasangan rakaat. Tidak ada tarawih 4 rakaat sekaligus tanpa salam.

Imam membaca dengan suara keras (jahriyah)—ini berjamaah malam yang khas memang dengan bacaan jelas.

Surat-surat yang dibaca biasanya pendek-sedang, karena dilakukan banyak rakaat berurutan. Tapi imam yang khusyuk biasanya membaca dengan tartil (perlahan, tartil).

Antara setiap 4 rakaat, dianjurkan istirahat sebentar (dari sinilah kata “tarawih”)—untuk minum, atur posisi, atau dzikir pendek. Di Indonesia, biasanya diisi dengan shalawat atau dzikir berjamaah.

Setelah jumlah rakaat tarawih selesai (20 atau 8), dilanjutkan dengan witir 3 rakaat—biasanya juga berjamaah dengan imam.

Niat di hati saat takbiratul ihram:

“Ushalli sunnatat-tarāwīḥi rak’ataini lillāhi ta’ālā” — Aku shalat sunnah tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala.

Kalau jadi makmum, tambahkan “ma’mūman”. Kalau jadi imam, “imāman”.

Bacaan Surat yang Sering di Tarawih Indonesia

Di Indonesia, ada pola bacaan surat di tarawih yang umum diikuti banyak masjid:

Pola 20 rakaat (8 hari pertama Ramadan):

Surat juz 30 (‘Amma) — dari At-Takatsur sampai An-Nas, dibaca berurutan di rakaat-rakaat awal.

Imam yang lebih maju kemampuannya kadang memulai dengan surat juz 29 (Tabarak) atau bahkan juz 28.

Target khataman 1 Al-Qur’an dalam sebulan:

Pola 1 juz per malam: 20 rakaat dengan 1 juz total dibagi rata. Sekitar 1.5 halaman per rakaat. Membutuhkan imam yang hafal Al-Qur’an dengan baik.

Pola surat pendek + tilawah terpisah: tarawih dengan surat-surat pendek (juz 30), lalu setelah tarawih ada tilawah Al-Qur’an oleh imam atau jamaah. Lebih ringan untuk imam yang belum hafal.

Yang penting: pilih masjid yang gaya bacaannya sesuai dengan preferensimu. Yang mau khataman: cari masjid dengan imam hafiz yang baca 1 juz/malam. Yang lebih mengutamakan kekhusyukan: cari masjid dengan tempo lebih lambat dan bacaan tartil.

Kapan Waktu Tarawih?

Tarawih dilakukan setelah shalat Isya wajib (+ ba’diyah Isya) dan sebelum waktu tidur. Di Indonesia biasanya antara pukul 19.30-21.30, tergantung masjid.

Hubungan tarawih dengan witir:

Kalau ikut witir berjamaah di akhir tarawih masjid—witir sudah selesai. Tidak boleh witir lagi malam itu.

Kalau berniat tahajjud di sepertiga malam akhir—boleh tidak ikut witir berjamaah, lakukan witir di akhir tahajjud sendiri di rumah.

Yang ideal untuk pemula: ikut witir berjamaah selesai. Untuk yang lanjut (tahajjud rutin): pilih sesuai strategi malam.

Catatan: kalau kamu memilih ikut witir berjamaah, dan ternyata bangun untuk tahajjud di sepertiga malam akhir—lakukan tahajjud dua-dua tanpa witir lagi. Karena “tidak ada dua witir dalam satu malam.”

Tarawih untuk Pemula

Kalau ini Ramadan pertamamu mengikuti tarawih, atau kamu pemula yang baru mau konsisten—ini panduan praktis:

Hari 1-3 (Adaptasi): Datang ke masjid setelah Isya + makan ringan. Ikut tarawih dari awal sampai selesai, walau merasa lelah. Tubuh akan beradaptasi setelah beberapa malam.

Hari 4-10 (Mulai khusyuk): Sudah lebih familiar dengan ritme. Mulai fokus pada bacaan imam—dengarkan ayat-ayatnya, renungkan maknanya. Jangan hanya mengikuti gerakan.

Hari 11-20 (Stabilisasi): Tarawih jadi kebiasaan. Mulai mengenal jamaah lain di masjid. Bawa botol air dan kurma untuk istirahat antar 4 rakaat.

Hari 21-30 (Sepuluh hari terakhir): Tingkatkan intensitas. Banyak masjid mulai i’tikaf di malam-malam ini. Kalau memungkinkan, ikut juga—ini malam-malam Lailatul Qadr.

Yang penting: jangan menyerah di tengah Ramadan. Banyak yang semangat di awal, lalu menghilang di pertengahan. Justru pahala tarawih di 10 hari terakhir Ramadan paling besar karena ada Lailatul Qadr.

Tarawih di Rumah — Boleh atau Tidak?

Pertanyaan yang sering muncul: “Bolehkah tarawih di rumah, tidak ke masjid?”

Jawaban: boleh, sah, dan tetap dapat pahala. Tapi pahalanya lebih besar kalau berjamaah di masjid.

Kapan tarawih di rumah lebih masuk akal:

Untuk perempuan yang sulit ke masjid (anak kecil, jarak jauh, dll). Hadits Nabi: shalat perempuan di rumahnya lebih utama daripada di masjid (kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Haram).

Untuk orang sakit atau lanjut usia yang sulit berdiri lama di masjid.

Saat tidak ada masjid terdekat (di rumah orang non-muslim, di tempat tinggal sementara, dll).

Saat pandemi atau situasi darurat lain yang membatasi berjamaah.

Untuk yang sehat dan dekat masjid: tarawih berjamaah lebih utama. Itu praktik sahabat dan tradisi umat sejak Khalifah Umar.

10 Hari Terakhir Ramadan — Tarawih dan I’tikaf

Inilah puncak dari Ramadan: 10 hari terakhir. Di antara malam-malam ganjil ini (21, 23, 25, 27, 29) ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadr.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam Qadr lebih baik dari seribu bulan.”

— QS. Al-Qadr [97]: 3 —

1.000 bulan = sekitar 83 tahun. Satu malam yang lebih baik dari seluruh hidup manusia rata-rata. Dan Allah merahasiakan malam itu di antara malam-malam ganjil 10 hari terakhir.

Praktik Rasulullah ﷺ di 10 hari terakhir:

I’tikaf di masjid (tinggal di masjid khusus untuk ibadah).

Tarawih + tahajjud yang lebih lama dari biasanya.

Membangunkan keluarga untuk juga shalat malam.

Lebih banyak doa, dzikir, baca Al-Qur’an.

Doa yang Nabi ajarkan untuk Lailatul Qadr:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

— HR. At-Tirmidzi (shahih) —

Doa pendek tapi sangat dalam. Hanya minta satu hal: ampunan. Karena pada malam Qadr, yang paling penting adalah hatimu yang bersih bertemu dengan Allah.

Penutup — Tarawih Sebagai Anugerah

Tarawih adalah salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada umat Muhammad ﷺ. Kesempatan untuk sebulan penuh shalat berjamaah malam dengan saudara seiman, kesempatan untuk khataman Al-Qur’an dengan dibimbing imam hafiz, kesempatan untuk pengampunan total dengan iman dan ihtisab—ini semua hanya datang sekali setahun.

Yang melewatkan Ramadan dengan tarawih yang lemah, dia kehilangan kesempatan yang tidak bisa diganti dengan apapun di 11 bulan lain. Yang Ramadan-nya penuh dengan tarawih konsisten—dia menambahkan tabungan akhirat yang luar biasa setiap tahun.

Mulai Ramadan berikutnya, perlakukan tarawih bukan sebagai kewajiban budaya, tapi sebagai investasi akhirat tahunan yang luar biasa. Datang ke masjid setiap malam. Hadirkan hati. Ikuti bacaan imam. Jangan biarkan kelelahan atau kenyamanan menggagalkan kesempatan ini.