RIWAYAT KEENAM
Shalat Jumat
Setiap hari Jumat, Dhuhur—untuk laki-laki muslim dewasa—bertransformasi menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan empat rakaat di rumah atau di kantor. Tapi dua rakaat di masjid, di depan ribuan saudara seiman, dengan dua khutbah yang mendahului. Inilah shalat Jumat—satu-satunya shalat wajib yang harus dilakukan berjamaah di masjid.
Riwayat ini akan mengajakmu memahami Jumat secara utuh: hukumnya, syarat-syaratnya, tata cara khutbah dan shalatnya, adab-adab dan sunnah-sunnah yang melingkupinya. Karena Jumat bukan sekadar “Dhuhur versi pendek”—dia adalah hari raya mingguan, dengan adab-adab tersendiri yang Allah dan Rasul-Nya tekankan.
Hari Jumat — Hari yang Berkah
Sebelum kita masuk ke detail shalatnya, mari kita pahami dulu konteksnya: hari Jumat itu sendiri. Karena tanpa memahami keberkahan harinya, kamu akan menganggap Jumat sekadar “hari shalat berjamaah di masjid”—padahal dia jauh lebih dari itu.
خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ: فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit di atasnya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke surga, pada hari itu dia dikeluarkan darinya, dan kiamat tidak akan terjadi kecuali di hari Jumat.”
— HR. Muslim —
Empat peristiwa kosmis di hari yang sama. Penciptaan manusia pertama. Kemuliaan tertinggi (masuk surga). Ujian terbesar (pengusiran dari surga). Akhir dunia. Semuanya jatuh di hari Jumat. Tidak ada hari lain yang memuat narasi sejarah manusia seperti ini.
Maka Jumat bukan hari biasa. Dia adalah hari di mana umat ini—umat Muhammad ﷺ—diberi penghormatan khusus oleh Allah. Bahkan ulama menyebut Jumat sebagai “sayyidul ayyām”—pemimpin hari-hari, atau hari raya mingguan.
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ
“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, maka perbanyaklah shalawat kepadaku di dalamnya.”
— HR. Abu Dawud (shahih) —
Selain shalat Jumat itu sendiri, ada banyak amal lain yang dianjurkan di hari ini: memperbanyak shalawat, membaca surat Al-Kahfi, berdoa di waktu-waktu mustajab, bersedekah, mengunjungi orang tua dan kerabat. Hari Jumat dirancang untuk diisi dengan ibadah—bukan hanya satu jam di masjid.
Hukum dan Syarat Wajib Shalat Jumat
Allah berfirman dengan tegas tentang kewajiban Jumat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.”
— QS. Al-Jumu‘ah [62]: 9 —
Dua perintah dalam ayat ini: (1) segera ke shalat Jumat, dan (2) tinggalkan urusan dunia. Ini bukan ajakan—ini perintah langsung dari Allah. Maka hukum Jumat bagi yang memenuhi syarat: wajib, dan meninggalkannya tanpa udzur termasuk dosa besar.
Tapi tidak semua orang wajib Jumat. Para ulama menyepakati lima syarat yang harus terpenuhi:
• Islam — non-muslim tidak wajib Jumat (dan tidak sah Jumatnya kalau pun dilakukan).
• Laki-laki — muslimah tidak wajib Jumat, walaupun boleh ikut hadir kalau memungkinkan.
• Baligh — anak yang belum baligh tidak wajib, tapi boleh ikut sebagai latihan.
• Berakal — orang yang hilang akalnya tidak wajib.
• Muqim (menetap) — musafir tidak wajib Jumat. Boleh shalat Dhuhur biasa di tempat persinggahannya.
Tambahan dari mazhab Syafi‘i: sehat (orang sakit yang menyulitkan untuk hadir tidak wajib), dan merdeka (budak di masa dulu tidak wajib, tidak relevan untuk konteks modern).
Bagaimana dengan yang tidak wajib Jumat? Mereka tetap wajib Dhuhur empat rakaat di tempat masing-masing. Tidak gugur kewajiban shalat siangnya.
Persiapan Sebelum ke Masjid
Jumat punya rangkaian sunnah persiapan yang sangat khas—berbeda dari shalat lima waktu biasa. Persiapan ini bukan formalitas, tapi bagian dari ibadah Jumat itu sendiri.
Sunnah-sunnah persiapan Jumat:
• Mandi Jumat — sebelum berangkat ke masjid. Rasulullah ﷺ bersabda: “Mandi Jumat itu wajib bagi setiap laki-laki yang sudah baligh.” (HR. Bukhari) Walaupun “wajib” di sini dipahami para ulama sebagai “sangat ditekankan”, mandi Jumat adalah salah satu sunnah yang Nabi ﷺ paling konsisten lakukan.
• Memotong rambut dan kuku — kalau panjang. Jumat adalah momen untuk tampil rapi dan bersih.
• Memakai pakaian terbaik — bukan yang termahal, tapi yang paling bersih dan rapi. Disukai pakaian putih yang bersih.
• Memakai wewangian — minyak wangi (parfum tanpa alkohol bagi yang teliti), atau wewangian apapun yang halal. Ini sunnah yang Rasulullah ﷺ tekankan.
• Membaca surat Al-Kahfi — di sepanjang hari Jumat (sejak Maghrib Kamis sampai Maghrib Jumat). Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi di hari Jumat, akan diberi cahaya antara dua Jumat.” (HR. Al-Hakim)
• Memperbanyak shalawat — sepanjang hari, terutama menjelang waktu Jumat.
• Berdoa di waktu mustajab — ada satu jam di hari Jumat di mana doa-doa tidak ditolak. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu pastinya; yang paling kuat: di akhir hari Jumat sebelum Maghrib.
• Datang lebih awal — bukan ngepas saat khutbah dimulai. Datang lebih awal dapat pahala besar.
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً…
“Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi junub lalu berangkat (di awal waktu) seakan dia berkorban unta. Yang berangkat di jam kedua seakan berkorban sapi. Jam ketiga: kambing bertanduk. Jam keempat: ayam. Jam kelima: telur. Ketika imam keluar, malaikat menutup buku catatan kehadiran dan ikut mendengarkan khutbah.”
— HR. Bukhari & Muslim —
Hadits ini sangat indah dan memotivasi. Setiap jam yang kamu “lebih cepat” datang ke masjid Jumat, pahalamu bertingkat. Yang datang paling awal seakan berkorban unta—hewan korban terbesar. Yang datang ngepas waktu khutbah—seakan menyumbang telur saja (bukan apa-apa). Yang datang setelah khutbah dimulai—namanya tidak dicatat malaikat lagi.
Maka kalau memungkinkan, datanglah ke masjid Jumat 30-60 menit sebelum khutbah dimulai. Pakai waktu itu untuk shalat sunnah, baca Al-Qur’an, atau berdzikir. Itu adalah investasi spiritual yang nyata.
Sampai di Masjid — Sebelum Khutbah
Begitu kamu sampai di masjid Jumat (sebelum khatib naik mimbar), ada beberapa hal yang dianjurkan dilakukan—dalam urutan ini:
Langkah 1. Masuk Masjid dengan Kaki Kanan
Sambil membaca doa masuk masjid:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ | Allāhumma-ftaḥ lī abwāba raḥmatik | Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu. |
Langkah 2. Shalat Tahiyatul Masjid
Begitu masuk masjid, sebelum duduk, shalat dua rakaat tahiyatul masjid—shalat sunnah “menyapa masjid”. Ini berlaku kapan saja kamu masuk masjid, bukan hanya di Jumat.
Tata cara: dua rakaat ringan, niat tahiyatul masjid karena Allah. Boleh dengan surat pendek apapun.
Langkah 3. Shalat Sunnah Qabliyah Jumat
Setelah tahiyatul masjid, kalau masih ada waktu sebelum khatib naik, lakukan shalat sunnah qabliyah Jumat. Jumlahnya: 2 rakaat (kalau waktu sempit) sampai 4 rakaat (kalau waktu lapang). Dilakukan dalam dua-dua salam.
Langkah 4. Membaca Al-Qur’an, Berdzikir, atau Berdoa
Setelah selesai shalat sunnah, isi waktu menunggu khatib naik dengan amal yang produktif: baca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa. Jangan main hp atau ngobrol—itu akan menyia-nyiakan waktu yang sangat berkah.
Langkah 5. Berhenti Saat Khatib Naik
Begitu khatib naik mimbar dan adzan kedua berkumandang, semua aktivitas berhenti. Tidak ada shalat sunnah lagi yang dimulai. Tidak ada berbicara, tidak ada main hp.
Kecuali satu hal: kalau kamu BARU MASUK masjid saat khatib sudah di mimbar, kamu tetap dianjurkan shalat tahiyatul masjid—tapi dengan cepat (ringan, hanya 2 rakaat singkat). Setelah itu duduk dan dengar khutbah.
Tata Cara Khutbah dan Shalat Jumat
Inilah inti dari ibadah Jumat: khutbah + shalat dua rakaat. Mari kita pahami rangkaiannya:
Langkah 1. Adzan Kedua dan Khatib Naik Mimbar
Setelah adzan pertama (yang biasanya 30-60 menit sebelumnya), kini adzan kedua dikumandangkan tepat saat khatib naik mimbar. Begitu adzan kedua selesai, khatib mulai khutbah.
Langkah 2. Khutbah Pertama
Khutbah pertama biasanya berisi: pujian kepada Allah, dua syahadat, shalawat, pesan taqwa, dan nasihat keagamaan. Khatib menyampaikan ini berdiri di atas mimbar.
Sebagai jamaah, kewajibanmu: diam dan mendengarkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jumat “diamlah”, padahal imam sedang khutbah, maka kamu telah lagha (melakukan kesia-siaan).”
— HR. Bukhari & Muslim —
Bayangkan: bahkan menyuruh orang diam (yang sebenarnya untuk kebaikan) saja dianggap “lagha”. Apalagi yang berbicara sendiri. Apalagi yang main hp. Diamlah total saat khutbah.
Langkah 3. Duduk Sebentar — Jeda Antar Khutbah
Setelah khutbah pertama, khatib duduk sebentar. Saat duduk ini, dianjurkan jamaah berdoa pribadi karena ini termasuk waktu mustajab. Sebagian ulama menyebut ini sebagai “jam mustajab” Jumat yang dijanjikan.
Langkah 4. Khutbah Kedua
Khatib bangkit dan menyampaikan khutbah kedua. Biasanya lebih pendek, fokus pada doa-doa untuk umat dan ditutup dengan iqamah.
Langkah 5. Iqamah dan Shalat Dua Rakaat
Setelah khutbah kedua selesai, iqamah dikumandangkan. Jamaah berdiri, membentuk shaf. Imam memimpin shalat Jumat dua rakaat.
Tata cara shalat Jumat: persis seperti shalat dua rakaat biasa—seperti Subuh, tapi tanpa qunut (kecuali sebagian ulama yang membolehkannya kalau ada musibah). Bacaan al-Fatihah dan surat dibaca KERAS oleh imam—Jumat termasuk shalat jahriyah seperti Subuh dan Maghrib.
Surat yang dianjurkan dibaca imam: Al-Jumu‘ah di rakaat pertama, Al-Munafiqun di rakaat kedua. Atau Al-A‘la di rakaat pertama, Al-Ghasyiyah di rakaat kedua. Keduanya pernah dicontohkan Nabi ﷺ.
Setelah salam, selesai. Jumatmu sudah ditunaikan.
Setelah Shalat Jumat
Setelah salam shalat Jumat, jangan langsung buru-buru pulang. Ada beberapa amal yang dianjurkan:
Pertama, dzikir setelah shalat seperti biasa—istighfar 3×, dzikir 100×, ayat Kursi. Sama dengan dzikir setelah Dhuhur.
Kedua, shalat sunnah ba’diyah Jumat. Ada dua pendapat tentang jumlahnya:
• Pendapat pertama (Hambali, sebagian Syafi‘i): 4 rakaat dalam 2 salam. Dilakukan di masjid.
• Pendapat kedua (mayoritas Syafi‘i): 2 rakaat di masjid, atau 4 rakaat kalau di rumah.
• Pendapat ketiga: 6 rakaat total (2 di masjid + 4 di rumah).
Yang paling praktis: 2 rakaat ba’diyah di masjid sebelum pulang. Kalau ingin tambah, lakukan 2-4 rakaat lagi setelah sampai di rumah.
Ketiga, berdoa di waktu mustajab sore Jumat. Banyak ulama berpendapat bahwa “jam mustajab” Jumat adalah antara Ashar dan Maghrib di hari Jumat. Maka sore-sore Jumat, sempatkan berdoa khusus—untuk diri, keluarga, urusan-urusan besar dalam hidupmu.
فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di hari Jumat ada satu saat di mana seorang hamba muslim yang sedang shalat dan meminta sesuatu kepada Allah, Allah pasti memberinya.”
— HR. Bukhari & Muslim —
“Sedang shalat dan meminta”—ini menunjukkan bahwa saat-saat dalam shalat (sujud, tasyahud) di hari Jumat punya keistimewaan khusus. Maka di Jumat, panjangkan sedikit doa-doa pribadimu di sujud. Itu peluang yang Allah janjikan.
Yang Membatalkan Pahala Jumat
Karena Jumat begitu istimewa, ada beberapa hal yang bisa membatalkan atau setidaknya mengurangi pahalanya. Penting kamu tahu, supaya tidak terjebak.
• Tidur saat khutbah — banyak yang ketiduran karena terlalu santai. Sebagian ulama bahkan menganggap pahala Jumatnya hilang. Solusinya: tidur cukup malam sebelumnya. Kalau ngantuk berat, ubah posisi duduk.
• Bermain hp saat khutbah — termasuk membalas chat, scroll medsos, atau “sekadar baca berita”. Ini sama dengan ngobrol—pahala hilang.
• Mengobrol dengan jamaah lain — bahkan sekadar berbisik. Yang tadi kita kutip hadits “menyuruh diam saja sudah lagha”.
• Berdiri/jalan-jalan/keluar masjid saat khutbah — kecuali untuk udzur darurat (ke toilet, dll).
• Datang setelah khutbah dimulai — Jumatnya masih dianggap sah kalau masih sempat ruku rakaat kedua bersama imam, tapi pahala maksimalnya hilang.
Konsekuensi paling berat: kalau terlambat sampai imam sudah salam, dan kamu sama sekali tidak sempat mendapatkan satu rakaat pun bersama imam—maka kamu wajib shalat Dhuhur empat rakaat (bukan Jumat dua rakaat). Karena syarat Jumat: harus mendapat minimal satu rakaat bersama imam.
Jumat dalam Konteks Modern
Beberapa pertanyaan praktis seputar Jumat di zaman ini, yang sering muncul:
❓ Aku kerja di kantor non-muslim, bos tidak izinkan Jumat—gimana?
Tetap perjuangkan. Ajukan izin resmi (banyak negara modern mengakui kebebasan beragama sebagai hak). Kalau benar-benar tidak diizinkan dan kamu tidak punya pilihan kerja lain, ini termasuk udzur yang Allah pahami—shalat Dhuhur saja. Tapi terus cari peluang: lobby manajemen, cari kantor lain yang mendukung, atau pindah ke perusahaan yang ramah muslim.
❓ Aku WFH—boleh Jumat di rumah pakai stream online?
Tidak. Shalat Jumat harus dilakukan secara fisik di masjid—bersama jamaah, bersama imam yang nyata. Stream online untuk menonton khutbah boleh sebagai tambahan informasi, tapi tidak mengganti kewajiban hadir. Datanglah ke masjid terdekat. Kalau benar-benar tidak ada masjid dalam radius wajar, shalat Dhuhur di rumah.
❓ Aku ada penerbangan tepat di waktu Jumat—gimana?
Kalau memungkinkan, atur jadwal penerbangan supaya tidak konflik dengan Jumat. Tapi kalau memang tidak bisa dihindari (misal penerbangan internasional yang panjang), kamu masuk kategori musafir—tidak wajib Jumat. Shalat Dhuhur saja di pesawat atau di bandara transit.
❓ Bagaimana kalau imam di masjid setempat ceramahnya bertele-tele atau kurang berkualitas?
Tetap hadir dengan sabar. Kalau ada masjid lain yang lebih berkualitas khotbahnya dan masih dalam jarak wajar, pindah ke sana. Tapi jangan sampai ini jadi alasan tidak Jumat sama sekali. Kewajibanmu adalah hadir, bukan menilai khatib.
❓ Boleh Jumat dengan pakaian kerja (kemeja, celana) atau harus baju koko?
Boleh dengan apa saja yang sopan, bersih, dan rapi. Tidak ada keharusan baju koko atau sarung. Yang dianjurkan: pakaian terbaikmu. Untuk yang dari kantor, kemeja dan celana panjang yang rapi sudah cukup. Pakai parfum, dan masuk masjid dengan tertib.