Paham Gerakan dan Makna Bacaan Sholat Shalat Sunnah Rawatib Dhuhur

RIWAYAT KELIMA

Shalat Sunnah Rawatib Dhuhur


Di Jilid II, kamu sudah belajar tentang qabliyah Subuh—dua rakaat yang Rasulullah ﷺ sebut “lebih baik dari dunia dan seisinya”. Sekarang, di Jilid III, kita masuk ke shalat sunnah yang melingkari Dhuhur. Dan inilah yang istimewa: Dhuhur adalah satu-satunya shalat wajib yang punya sunnah rawatib paling banyak—total enam rakaat.

Empat rakaat sebelumnya (qabliyah), dua rakaat sesudahnya (ba’diyah). Plus janji-janji yang tidak main-main: Allah haramkan dari neraka, doa yang lebih mudah dikabul, dan tambahan rumah di surga. Semua ini untuk shalat yang totalnya hanya butuh 15-20 menit ekstra di sekitar Dhuhur wajibmu.

Mengapa Banyak Sunnah Mengelilingi Dhuhur?

Pertanyaan yang wajar muncul: kenapa Dhuhur dapat “bonus” enam rakaat sunnah, sementara Subuh hanya dua dan Maghrib hanya dua? Ada apa dengan Dhuhur sampai dia mendapat perhatian khusus dari Rasulullah ﷺ?

Beberapa pemikiran ulama tentang ini:

Pertama, Dhuhur adalah shalat di tengah hari—saat manusia paling sibuk, paling tergoda, paling mudah lupa. Allah, lewat lisan Nabi-Nya, memberi banyak peluang sunnah untuk “mengikat” muslim ke ibadah lebih lama di tengah arus dunia. Bukan untuk mempersulit—tapi untuk menyelamatkan.

Kedua, Dhuhur datang setelah aktivitas pagi yang panjang. Tubuh dan pikiran sudah “tersebar” ke banyak arah. Empat rakaat qabliyah berfungsi sebagai “pengumpulan kembali”—menarik diri dari dunia sebelum berdiri menghadap Allah. Lalu setelah Dhuhur wajib, dua rakaat ba’diyah berfungsi sebagai “transisi” kembali ke dunia—tapi dengan hati yang sudah lebih tenang.

Ketiga, ada hadits yang secara eksplisit menyebut peluang besar di sekitar Dhuhur—yang akan kita bahas detail di Catatan berikutnya. Tapi singkatnya: Allah meletakkan jendela ampunan dan rahmat khusus di sekitar Dhuhur, dan sunnah rawatib adalah jalan masuknya.

Maka jangan sepelekan enam rakaat ini. Mereka bukan “pelengkap”—mereka adalah inti dari ibadah harian seorang muslim yang ingin keberkahan maksimal.

Empat Rakaat Qabliyah — Sebelum Dhuhur

Shalat sunnah qabliyah Dhuhur adalah empat rakaat yang dilakukan sebelum Dhuhur wajib. Tata caranya seperti shalat sunnah biasa—dilakukan dalam dua kali salam (dua rakaat-salam, dua rakaat-salam), bukan langsung empat rakaat sekali salam.

Ini sesuai dengan kaidah umum yang Rasulullah ﷺ sabdakan:

صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat.”

— HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi (shahih) —

Maksudnya: shalat sunnah dilakukan dua rakaat per salam. Ini berlaku untuk semua shalat sunnah—rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, dan lainnya. Hanya ada beberapa pengecualian (seperti witir tiga rakaat) yang punya tata cara khusus.

Maka untuk qabliyah Dhuhur:

Niat dua rakaat qabliyah Dhuhur, takbir, dua rakaat seperti Subuh, salam.

Lalu niat lagi dua rakaat qabliyah Dhuhur kedua, takbir, dua rakaat lagi, salam.

Total: empat rakaat dalam dua kali salam.

Lafal niat qabliyah Dhuhur:

ArabLatinTerjemah
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلَّهِ تَعَالَىUṣallī sunnataẓ-ẓuhri rak‘ataini qabliyyatan lillāhi ta‘ālāAku shalat sunnah Dhuhur dua rakaat qabliyah karena Allah Ta‘ala.

Bacaan di dalamnya bebas—boleh surat apa saja yang kamu hafal. Tapi yang dianjurkan Rasulullah ﷺ untuk shalat sunnah seputar Dhuhur: surat-surat yang sedang panjangnya, atau Al-Kafirun di rakaat pertama dan Al-Ikhlash di rakaat kedua—sama dengan qabliyah Subuh.

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا، حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan dia atas neraka.”

— HR. At-Tirmidzi & An-Nasa’i (hasan) —

Hadits ini menyebut “empat sebelum dan empat sesudah”—total delapan rakaat sunnah. Tapi pendapat masyhur Syafi‘i: dua rakaat ba’diyah saja yang termasuk rawatib mu’akkadah (sangat ditekankan). Dua tambahan ba’diyah lainnya adalah sunnah ghairu mu’akkadah (sunnah biasa, tidak ditekankan).

Maka kalau kamu mau ambil maksimal—empat sebelum + empat sesudah—pahalanya luar biasa: terhindar dari neraka. Kalau kamu mau ambil yang ditekankan saja—empat sebelum + dua sesudah—itu sudah cukup untuk disebut menjaga sunnah Dhuhur.

Dua Rakaat Ba’diyah — Sesudah Dhuhur

Setelah selesai Dhuhur wajib dan dzikir-dzikirnya, ada dua rakaat sunnah ba’diyah yang sangat ditekankan. Ini termasuk rawatib mu’akkadah yang Rasulullah ﷺ jarang sekali meninggalkannya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ

“Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat setelah Dhuhur.”

— HR. Bukhari —

Sama seperti qabliyah Subuh yang “tidak pernah ditinggalkan Nabi” (kita pelajari di Jilid II), qabliyah dan ba’diyah Dhuhur juga punya status itu. Beliau jaga sepanjang hidupnya, dalam keadaan apapun.

Tata cara dua rakaat ba’diyah: dilakukan sekali salam (dua rakaat utuh). Tidak dipecah.

Lafal niat ba’diyah Dhuhur:

ArabLatinTerjemah
أُصَلِّي سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلَّهِ تَعَالَىUṣallī sunnataẓ-ẓuhri rak‘ataini ba‘diyyatan lillāhi ta‘ālāAku shalat sunnah Dhuhur dua rakaat ba’diyah karena Allah Ta‘ala.

Kapan dilakukan? Setelah salam Dhuhur wajib, setelah dzikir 100×, setelah ayat Kursi—lalu baru ba’diyah. Tidak boleh langsung ba’diyah tepat setelah salam Dhuhur tanpa jeda; berikan jeda untuk dzikir dulu. Tapi juga jangan tunda terlalu lama—kalau sudah pindah tempat, sudah berbicara banyak, sudah hilang “suasana shalat”, ba’diyah-nya jadi kurang ideal.

Praktik yang baik: salam → istighfar → dzikir 100× → ayat Kursi → langsung berdiri untuk ba’diyah 2 rakaat → salam → doa pribadi.

Ringkasan: Rawatib Dhuhur Lengkap

Mari kita ringkas semua rawatib Dhuhur dalam satu pandangan, agar mudah diingat:

JenisStatusKeterangan
4 rakaat qabliyahMu’akkadahSangat ditekankan. Dilakukan dalam 2 salam (2-2). Sebelum Dhuhur wajib.
Dhuhur wajibFardhu4 rakaat. Inti shalat siang.
2 rakaat ba’diyahMu’akkadahSangat ditekankan. Dalam 1 salam. Setelah dzikir Dhuhur.
+2 rakaat ba’diyahGhairu mu’akkadahTidak ditekankan, tapi dilakukan akan menyempurnakan hadits “4 sebelum + 4 sesudah”.

Untuk pemula: fokus dulu pada qabliyah 4 + Dhuhur wajib + ba’diyah 2. Total 10 rakaat. Itu sudah memenuhi rawatib mu’akkadah Dhuhur secara penuh. Setelah konsisten beberapa bulan, baru tambahkan dua rakaat ba’diyah lagi untuk meraih hadits “diharamkan dari neraka”.

Apa yang Dibaca dalam Sunnah Rawatib?

Rasulullah ﷺ membaca berbagai surat dalam shalat sunnahnya, sesuai kondisi dan keinginan. Tidak ada keharusan baca surat tertentu. Tapi ada beberapa pilihan yang sering beliau pakai:

Untuk qabliyah dua rakaat pertama:

Rakaat 1: Al-Kafirun (mengingatkan kemurnian tauhid).

Rakaat 2: Al-Ikhlash (penegasan keesaan Allah).

Pola Al-Kafirun + Al-Ikhlash ini disebut “dua surat tauhid” yang Rasulullah ﷺ sangat sukai untuk shalat-shalat sunnah yang ringkas. Hikmahnya: kamu memulai siang dengan deklarasi tauhid yang kuat, sebelum masuk ke dunia yang akan menarikmu ke banyak arah.

Untuk qabliyah dua rakaat kedua dan ba’diyah:

Bebas. Surat apa saja dari Al-Qur’an. Yang sedang panjangnya lebih utama.

Contoh pilihan baik: Adh-Dhuha, Asy-Syarh, At-Tin, Al-‘Asr, At-Takatsur.

Atau surat-surat yang ayatnya kamu cintai—Allah suka kalau kamu memilih dengan cinta, bukan sekadar mengikuti daftar.

Yang penting: bacaan harus dalam hati untuk shalat sunnah siang (qabliyah dan ba’diyah Dhuhur, semua sunnah Ashar). Sama dengan Dhuhur wajib yang sirriyah. Hanya shalat sunnah malam (Tahajjud, Witir di malam) yang boleh dibaca keras kalau di rumah sendirian.

Praktik Modern — Antara Idealisme dan Realitas

Sekarang mari kita jujur dengan realitas. Berapa muslim Indonesia yang benar-benar mengerjakan qabliyah 4 + Dhuhur 4 + ba’diyah 2 = total 10 rakaat di siang hari? Sebagian besar tidak. Kebanyakan hanya Dhuhur wajibnya saja, langsung kembali ke pekerjaan.

Kenapa? Bukan karena malas semata. Tapi karena keterbatasan waktu nyata:

Jam istirahat siang di kantor biasanya hanya 1 jam—untuk makan, shalat, dan istirahat sebentar.

Wudhu butuh 3-5 menit. Antrian di mushola butuh waktu.

Total 10 rakaat butuh 15-20 menit di luar wudhu—setengah dari jam istirahat sudah terpakai.

Belum lagi untuk makan, ngobrol dengan rekan, atau menyelesaikan hal urgent.

Bagaimana solusinya? Inilah pendekatan praktis untuk muslim sibuk:

Tingkat 1 — Minimal: Hanya Dhuhur wajib. Kalau memang waktu sangat sempit, jangan paksa sunnah. Dhuhur wajib lebih penting dari sunnah.

Tingkat 2 — Disarankan: Dhuhur wajib + ba’diyah 2 rakaat. Tambahan 5 menit, tapi memberi pahala besar (mu’akkadah). Ini adalah “sweet spot” untuk muslim kantor yang waktunya terbatas.

Tingkat 3 — Ideal: Qabliyah 2 + Dhuhur wajib + ba’diyah 2. Total 8 rakaat. Tambahan 10 menit. Ini sudah memenuhi sunnah rawatib mu’akkadah secara penuh menurut sebagian ulama (yang menganggap qabliyah 2 rakaat saja sudah cukup mewakili).

Tingkat 4 — Maksimal: Qabliyah 4 + Dhuhur wajib + ba’diyah 2. Total 10 rakaat. Ini sesuai hadits Aisyah—yang Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya.

Tingkat 5 — Sempurna: Qabliyah 4 + Dhuhur wajib + ba’diyah 4. Total 12 rakaat. Hadiahnya: diharamkan dari neraka (hadits At-Tirmidzi).

Mulai dari tingkat yang sesuai dengan kondisimu sekarang. Naik tingkat secara bertahap. Lebih baik konsisten di tingkat rendah daripada ambisius lalu putus.

Mengqadha Sunnah Rawatib yang Terlewat

Pertanyaan praktis yang sering muncul: kalau aku terlanjur shalat Dhuhur wajib dulu karena buru-buru, dan baru ingat qabliyah-nya belum—apakah masih bisa dikerjakan?

Jawabannya: bisa. Sunnah rawatib yang terlewat bisa diqadha (dikerjakan setelah waktunya lewat) dengan beberapa cara:

Kalau qabliyah terlewat dan kamu sudah shalat Dhuhur wajib—kerjakan qabliyah-nya setelah Dhuhur (jadi dia bertukar fungsi dengan ba’diyah dalam urutan, tapi tetap dengan niat qabliyah).

Kalau ba’diyah terlewat karena kamu langsung pergi—boleh dikerjakan kapan saja sebelum Ashar masuk.

Kalau Dhuhur wajib dan semua sunnahnya terlewat (misal karena ketiduran sampai Ashar)—qadha Dhuhur wajibnya dulu, lalu sunnah-sunnahnya kalau memungkinkan dan masih ada waktu.

Tapi—jangan jadikan kebiasaan. Kalau sering qadha sunnah, ada yang salah dengan jadwalmu. Coba revisi: mungkin perlu wudhu lebih awal, mungkin perlu blok kalender khusus, mungkin perlu mushola yang lebih dekat.

Sunnah rawatib dirancang untuk dikerjakan tepat di sekitar Dhuhur—saat momentum spiritualnya paling kuat. Qadha sunnah adalah “rescue mode”, bukan “normal mode”.