RIWAYAT KEDELAPAN
Persoalan Modern
Inilah Riwayat penutup. Setelah enam Riwayat sebelumnya membahas shalat-shalat sunnah, sekarang kita masuk ke wilayah yang khas zaman ini: persoalan-persoalan modern yang sering dihadapi muslim Indonesia hari ini—persoalan-persoalan yang tidak ada di kitab klasik karena memang belum ada di zaman itu.
Bagaimana shalat di pesawat penerbangan jarak jauh? Bagaimana saat traveling ke negara non-muslim? Bagaimana mengatur shalat di tengah jadwal WFH dengan meeting Zoom yang padat? Bagaimana hukum shalat berjamaah online? Riwayat ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan prinsip-prinsip Islam yang tetap berlaku, walaupun konteksnya baru.
1. Shalat di Pesawat
Penerbangan modern—terutama yang internasional dan jarak jauh (8+ jam)—pasti akan melewati setidaknya satu waktu shalat. Bagaimana cara shalat di pesawat?
Prinsip dasarnya: shalat wajib tidak boleh ditinggalkan karena alasan transportasi. Tapi caranya bisa disesuaikan.
Beberapa skenario:
• Skenario 1 — Penerbangan pendek (1-3 jam): hampir tidak masuk waktu shalat. Kalaupun masuk, tunggu sampai mendarat. Kalau khawatir habis waktunya, lakukan shalat di kursi.
• Skenario 2 — Penerbangan menengah (3-6 jam): mungkin melewati 1 waktu shalat. Strateginya: shalat sebelum naik pesawat + jamak takdim untuk waktu yang akan masuk (kalau memungkinkan).
• Skenario 3 — Penerbangan jauh (6+ jam): melewati 2-3 waktu shalat. Wajib shalat di pesawat untuk salah satunya.
Cara shalat di pesawat:
• Cari area yang tersedia: beberapa pesawat besar (Boeing 777, Airbus A380) punya area kosong dekat pintu darurat atau pantry. Tanya pramugari—mereka biasanya membantu kalau diminta dengan sopan.
• Kalau tidak ada area: shalat di kursi dengan duduk. Niat dengan sungguh-sungguh, takbir, baca Al-Fatihah + surat, isyaratkan ruku dengan menundukkan kepala, isyaratkan sujud dengan menundukkan kepala lebih dalam.
• Arah kiblat: gunakan aplikasi qibla compass di hp (mode pesawat tetap bisa pakai GPS dasar). Atau ikuti petunjuk pramugari/kompas pesawat. Kalau tidak bisa pastikan: niat menghadap kiblat, lalu menghadap arah yang menurutmu mendekati kiblat. Allah memaafkan dalam kondisi ini.
• Untuk waktu: gunakan aplikasi shalat. Pakaian: usahakan rapi.
فَلْيُصَلِّ أَحَدُكُمْ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ
“Hendaklah salah seorang di antara kalian shalat ke arah ke mana kendaraannya menghadap.”
— HR. Bukhari & Muslim (tentang shalat sunnah di kendaraan) —
Hadits ini berbicara tentang shalat sunnah di atas unta—boleh menghadap ke mana saja arah unta berjalan. Untuk shalat wajib di pesawat: usahakan menghadap kiblat semampunya, kalau benar-benar tidak bisa—maafkan diri sendiri dan shalat dengan niat yang ikhlas.
2. Shalat saat Melintasi Zona Waktu
Pertanyaan yang sering muncul: kalau pesawat melintasi banyak zona waktu (misalnya Jakarta-London 15 jam, Singapore-New York 17 jam), bagaimana mengatur shalat?
Prinsip yang dipakai mayoritas ulama modern (MUI & lembaga-lembaga internasional):
• Mengikuti waktu di mana KAMU BERADA SAAT INI. Bukan waktu tempat asal atau tujuan.
• Saat pesawat melintas, kamu ada di langit. Ikuti tanda-tanda alami: matahari di mana, bayangan kemana. Kalau matahari sedang terbit dari ufuk timur—itu Subuh. Kalau matahari di puncak—itu Dhuhur.
• Untuk presisi: aplikasi shalat di hp akan otomatis update sesuai posisi pesawat.
• Kalau terjadi situasi aneh (misalnya matahari “tidak tenggelam” karena terbang ke timur), ulama memberi panduan: ikuti pola 24 jam dengan estimasi waktu shalat.
Contoh konkret: penerbangan Jakarta-London 15 jam, berangkat jam 10 pagi:
• Sebelum boarding (jam 09.00): pastikan Subuh dan Dhuha sudah dilakukan.
• Sekitar jam 13.00 (waktu di pesawat): Dhuhur masuk. Shalat di pesawat dengan duduk atau berdiri di area kosong.
• Sekitar jam 16.00: Ashar masuk. Shalat lagi.
• Pesawat terbang ke barat—waktu “melambat” karena mengikuti matahari.
• Saat mendarat di London (sekitar jam 17.00 waktu London): shalat sesuai waktu London. Kalau sudah lewat Maghrib, segera bayar.
3. Shalat saat Traveling Internasional
Saat traveling ke negara muslim (Saudi, UEA, Malaysia, Turki, dll): tidak ada masalah. Adzan terdengar, masjid banyak, hotel-hotel besar punya prayer room. Ikuti pola lokal.
Yang lebih menantang: traveling ke negara non-muslim. Beberapa panduan:
• Sebelum berangkat: install aplikasi shalat yang reliable. Set lokasi otomatis. Download peta offline kalau internet di sana terbatas.
• Riset terlebih dahulu: lokasi masjid di kota tujuan (Google Maps: “mosque near me”). Banyak kota besar Eropa/Amerika punya masjid komunitas muslim lokal.
• Untuk shalat di tempat umum: cari tempat sepi yang bersih. Bawa sajadah travel kecil yang bisa dilipat ke dalam tas. Shalat dengan tempo wajar—tidak perlu sembunyi-sembunyi.
• Untuk hotel: kamar hotelmu adalah tempat shalat terbaik. Cek arah kiblat (banyak hotel sudah menandai dengan stiker di langit-langit, atau pakai aplikasi).
Keringanan musafir tetap berlaku:
• Qashar untuk Dhuhur, Ashar, Isya (jadi 2 rakaat). Subuh tetap 2, Maghrib tetap 3.
• Jamak (gabungkan Dhuhur-Ashar, atau Maghrib-Isya) untuk fleksibilitas.
• Boleh tidak ikut Jumat (cukup Dhuhur 4 rakaat atau 2 rakaat qashar).
4. Shalat saat WFH dan Zoom Meeting
Pandemi mengubah pola kerja—banyak yang sekarang WFH atau hybrid. Ini sebenarnya kabar baik untuk shalat: tidak ada lagi alasan “saya tidak sempat ke mushola kantor”—kamarmu sendiri sudah tempat shalat.
Tantangan WFH dan ibadah:
• Jadwal yang menumpuk: meeting Zoom satu demi satu tanpa jeda.
• Distraksi rumah: anak-anak, urusan rumah tangga, godaan “sambil-sambilan”.
• Batas waktu kerja yang kabur: kerja bisa sampai larut, mengganggu Isya dan tidur.
Strategi praktis:
• Block waktu shalat di kalender. Sama seperti meeting kerja, shalat juga jadwal yang tidak boleh dilanggar. Set 10-15 menit untuk Dhuhur (12.30-12.45) dan Ashar (15.30-15.45).
• Komunikasi dengan tim: “Saya tidak available antara 12.30-12.45 untuk shalat dan makan siang.” Sebagian besar tim modern menghormati ini.
• Untuk meeting yang melewati waktu shalat: minta izin keluar 10 menit, atau aktifkan mute + video off + lakukan shalat di belakang layar.
• Manfaatkan WFH untuk shalat sunnah ekstra: Dhuha sebelum mulai kerja, ba’diyah setelah Dhuhur. Privacy di rumah adalah aset spiritual yang besar.
• Set batas kerja yang sehat: hentikan kerja sebelum Maghrib. Lanjutkan setelah Isya kalau perlu, dengan jeda yang jelas.
Cara shalat saat meeting Zoom panjang:
• Pilih 1: pamit keluar dari Zoom selama 10 menit. “Maaf, izin shalat, kembali 10 menit lagi.”
• Pilih 2: matikan video, mute mikrofon, lakukan shalat di tempat. Cocok untuk webinar/sesi listening.
• Pilih 3: kalau benar-benar tidak bisa pamit (presentasi, interview): geser waktu shalat ke awal atau akhir jendela.
5. Shalat di Tempat Publik
Indonesia—alhamdulillah—adalah salah satu negara dengan mushola publik terbanyak. Mal, bandara, stasiun, terminal, SPBU, rest area—hampir semua punya mushola. Manfaatkan ini.
Beberapa tips:
• Tahu lokasi mushola sebelum kamu butuh. Saat pertama sampai di tempat baru, cek peta atau tanya petugas.
• Bawa sajadah travel di tas. Kalau khawatir kebersihan, sajadah pribadi lebih nyaman.
• Untuk mushola yang penuh saat berjamaah: tunggu dengan sabar atau cari mushola alternatif.
• Untuk mushola gabung laki-perempuan dengan sekat: hormati pemisahan.
Kalau tidak ada mushola sama sekali:
• Hadits Nabi: “Bumi telah dijadikan masjid untukku dan suci.” (HR. Bukhari) Tempat bersih manapun bisa jadi tempat shalat.
• Cari area sepi yang bersih: taman kecil, sudut bangunan, kursi yang menghadap kiblat.
• Sajadah travel kecil sangat membantu.
• Jangan malu atau sembunyi-sembunyi. Shalat adalah hakmu sebagai muslim—lakukan dengan tenang dan tegak.
6. Shalat Berjamaah Online?
Pertanyaan yang populer sejak pandemi: bolehkah shalat berjamaah lewat Zoom, dengan imam di satu lokasi dan makmum di lokasi lain?
Jawaban mayoritas ulama (termasuk MUI Indonesia): TIDAK BOLEH. Shalat berjamaah mensyaratkan kebersamaan fisik—imam dan makmum di tempat yang sama, dengan shaf yang tersusun rapi.
Alasan-alasannya:
• Hadits-hadits tentang shaf: rapatkan shaf, sejajarkan, tidak ada celah—semua ini tidak mungkin virtual.
• Tidak ada satupun praktik sahabat atau ulama klasik yang berjamaah dengan imam di tempat yang jauh.
• Konsep “berjamaah” dalam Islam adalah kebersamaan fisik untuk membangun komunitas.
Tapi ada pengecualian:
• Khutbah online bisa—kalau itu hanya khutbah informatif (bukan khutbah Jumat). Tapi shalat Jumat sendiri harus berjamaah fisik.
• Ceramah/kajian online sangat dianjurkan—ilmu agama bisa disebar dengan teknologi.
• Saat pandemi puncak, beberapa ulama membolehkan shalat Jumat di rumah dengan keluarga (suami sebagai imam) sebagai keringanan darurat—itu bukan online, itu jamaah fisik kecil.
7. Menentukan Arah Kiblat dengan Teknologi
Di zaman dulu, menentukan kiblat butuh ilmu astronomi. Sekarang? Ada aplikasi qibla compass—akurat sampai derajat.
Cara pakai:
• Install aplikasi qibla compass (banyak gratis di Play Store/App Store).
• Izinkan akses GPS.
• Aplikasi menunjukkan arah kiblat dari lokasi kamu.
• Verifikasi dengan kompas fisik kalau memungkinkan.
Untuk situasi khusus:
• Di hotel—cek stiker di langit-langit kamar.
• Di pesawat—aplikasi qibla tetap bisa dipakai dengan GPS basic.
• Di alam terbuka kalau hp mati—untuk Indonesia, kiblat ada di barat-laut. Pakai matahari sebagai patokan.
• Kalau tidak yakin—niat menghadap kiblat, lalu menghadap arah yang paling mendekati. Allah memaafkan kesalahan arah dalam kondisi tidak tahu.
Penutup Riwayat — Prinsip yang Tetap di Zaman yang Berubah
Itulah tujuh persoalan modern yang paling sering dihadapi muslim Indonesia hari ini. Tentu masih banyak persoalan lain—shalat saat bekerja di pertambangan jauh, di kapal pesiar, di stasiun luar angkasa.
Tapi yang penting bukan menjawab setiap persoalan satu per satu—yang penting memahami prinsip yang tetap di zaman yang berubah:
• Shalat lima waktu tetap wajib. Tidak ada zaman yang menggugurkan kewajiban ini.
• Allah memberi keringanan untuk yang punya udzur—musafir, sakit, kondisi darurat. Tapi keringanan ini untuk yang sungguh-sungguh butuh, bukan untuk yang malas.
• Teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti. Aplikasi, qibla compass, Zoom—semua adalah alat. Yang esensi tetap: niat, gerakan, bacaan, kebersamaan fisik.
• Yang dipertahankan: prinsip dan rukun. Yang dimodifikasi: cara penyesuaian.
Yang terpenting: jangan biarkan kerumitan zaman ini menjadi alasan untuk menjauh dari shalat. Justru karena zaman semakin sibuk, semakin distraktif, semakin individualis—shalat lima waktu adalah pelukan yang Allah berikan supaya kamu tidak tenggelam. Lima kali sehari, kamu “diingatkan” bahwa ada Yang Lebih Besar dari semua kesibukanmu.
PENUTUP JILID VII
Melengkapi Hari, Menyambut Zaman
Kamu sudah di akhir Jilid VII. Tujuh Riwayat di belakangmu—peta lanskap shalat sunnah, Dhuha di pagi yang baru matang, Tahajjud di tengah malam yang sepi, Tarawih sebulan penuh di Ramadan, Shalat Jumat di hari yang Allah pilih khusus, Shalat Ied dua kali setahun, lima shalat sunnah situasional, dan persoalan-persoalan modern hari ini.
Jilid ini melengkapi pondasi yang sudah dibangun di Jilid I-VI. Kalau Jilid I-VI adalah “kewajiban dasar” muslim, Jilid VII adalah “ekspresi cinta” yang membuat ibadahmu lebih kaya, lebih dalam, lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Yang luar biasa dari shalat-shalat sunnah ini: mereka bukan tambahan beban—mereka adalah tambahan kekayaan. Setiap rakaat sunnah adalah hadiah cinta yang kamu berikan tanpa diminta. Setiap shalat sunnah situasional adalah cara kamu “mengundang Allah” dalam momen-momen khusus hidupmu. Setiap penyesuaian terhadap persoalan modern adalah bukti bahwa Islam tetap relevan di zaman manapun.
PENUTUP SERI
Tujuh Jilid, Satu Perjalanan
Dan inilah akhirnya. Tujuh jilid “Panduan Shalat for Newbie” yang menemanimu sepanjang perjalanan ini. Kamu sudah lewati semuanya.
Mari kita lihat ke belakang sejenak. Dari mana kita mulai? Dari yang paling dasar: bersuci. Karena kebersihan adalah pintu masuk—tidak ada ibadah tanpa kesucian. Itulah Jilid I.
Lalu kita masuk ke lima waktu yang Allah tetapkan, satu per satu, dengan kedalaman yang berbeda. Subuh—pertarungan pertama hari, melawan kasur dan kemalasan. Dhuhur—jeda di tengah hari, kalibrasi prioritas. Ashar—bertahan di tengah kelelahan, kemenangan harian. Maghrib—menyambut malam, pulang dengan baik. Isya—penutup hari, menutup dengan sadar.
Setiap shalat membawa pelajarannya sendiri. Setiap waktu mengajarkan sesuatu yang berbeda. Lima shalat bukan beban yang Allah taruh di bahumu—mereka adalah lima jeda yang Allah buat dalam harimu, supaya kamu tidak tenggelam dalam dunia yang tidak henti-henti.
Lalu Jilid VII—yang baru saja kamu selesaikan—mengajakmu lebih jauh. Shalat-shalat sunnah yang menyempurnakan ibadah harian. Persoalan-persoalan modern yang menunjukkan Islam tetap relevan di zaman yang berubah cepat ini.
Yang harus kamu pegang setelah selesai membaca seri ini:
Pertama, konsistensi lebih penting dari kemegahan. Lima waktu konsisten setiap hari jauh lebih dicintai Allah daripada 100 rakaat sunnah sekali-sekali. Kalau ada satu hal yang ingin kamu bawa pulang, itu adalah: pertahankan lima waktu, di waktunya, setiap hari.
Kedua, pondasi sebelum perabotan. Jangan loncat ke tahajjud dan Dhuha kalau Subuh masih sering bolong. Jangan ambisi 11 rakaat witir kalau Isya masih sering ditunda sampai mengantuk. Bangun dari dasar. Pelan-pelan. Sustainable.
Ketiga, kualitas tumbuh dengan waktu. Shalat di tahun pertama akan sangat berbeda dengan shalat di tahun kesepuluh. Tidak masalah—itu memang harus tumbuh. Yang penting kamu konsisten, dan biarkan kedalaman muncul perlahan dari pengulangan yang sabar.
Keempat, ibadah adalah jalan dua arah. Kamu shalat untuk Allah, dan Allah memberi kembali kepadamu—ketenangan, keberkahan, kedekatan, perlindungan. Ini bukan transaksi (Allah tidak butuh apapun dari kita). Ini adalah hubungan—yang kamu bangun pelan-pelan, lima kali sehari, sepanjang hidupmu.
Kelima, kamu tidak sendirian. Setiap kali kamu shalat—di kamar tidurmu, di kantor, di pesawat, di hotel—ada jutaan muslim lain di belahan dunia yang juga sedang shalat. Kamu adalah bagian dari ummat yang besar, yang membentang lintas geografi, lintas budaya, lintas generasi. Tidak ada saat di mana kamu shalat sendirian secara global.
Aku ingin mengakhiri dengan satu pengakuan jujur: buku ini tidak sempurna. Tidak ada buku tentang ibadah yang sempurna. Yang aku tulis di sini adalah usaha terbaik untuk menjadikan ilmu yang dulu hanya dimiliki kalangan ulama menjadi mudah diakses oleh siapapun yang berbahasa Indonesia—mualaf, milenial, Gen Z, siapa saja.
Kalau ada yang benar di buku ini—itu dari Allah, dan dari ilmu para ulama yang menjadi rujukanku. Kalau ada yang salah—itu kekuranganku, dan aku mohon ampun kepada Allah dan kepadamu sebagai pembaca.
Pesan terakhirku: jangan jadikan buku ini sebagai tujuan akhir. Dia adalah pengantar. Setelah ini, lanjutkan dengan: belajar dari ustadz/ustadzah langsung, baca tafsir Al-Qur’an, ikuti kajian rutin, terus dalami pengetahuanmu. Buku ini hanya “langkah pertama”—masih ada perjalanan panjang yang menanti.
Dan dalam perjalanan itu, semoga shalatmu menjadi cahaya yang menerangi semua langkahmu. Semoga setiap rakaat yang kamu lakukan menjadi tabungan akhirat. Semoga Allah menerima ibadahmu, mengampuni kekuranganmu, dan menjadikanmu termasuk yang Dia cintai.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, ayat yang sangat tepat untuk menutup seri ini:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (dengan shalat dan ibadah) adalah lebih besar (keutamaannya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
— QS. Al-Ankabut [29]: 45 —
Ayat ini ringkasan terbaik dari seri ini. Shalat bukan ritual kosong—dia adalah “pencegah” dari perbuatan keji dan mungkar. Yang shalatnya benar, hidupnya akan berubah pelan-pelan. Yang shalatnya hanya formalitas, perubahan itu lemah.
Maka jadikan shalatmu lebih dari sekadar gerakan. Jadikan dia momen di mana kamu benar-benar “bertemu” dengan Allah. Lima kali sehari. Dengan hati yang hadir. Dengan kesadaran yang sungguh-sungguh. Dengan harapan untuk diterima.
Dan biarkan shalat itu mengubahmu pelan-pelan—dari yang lalai menjadi sadar, dari yang lemah menjadi kuat, dari yang biasa menjadi luar biasa. Bukan lewat satu shalat dramatis, tapi lewat ribuan shalat yang konsisten di sepanjang hidupmu.
جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا
Jazākumullāhu khairan
Semoga Allah membalas dengan kebaikan untukmu.
Wallāhu a’lamu bish-shawāb.
— Penerbit Istanbul, Surakarta —