Paham Gerakan dan Makna Bacaan Sholat Shalat Sunnah Rawatib Maghrib

RIWAYAT KELIMA

Shalat Sunnah Rawatib Maghrib


Setelah Ashar yang punya rawatib “sederhana” (4 qabliyah ghairu mu’akkadah saja), Maghrib kembali punya rawatib mu’akkadah—yaitu rawatib yang sangat ditekankan oleh Rasulullah ﷺ. Khususnya 2 rakaat ba’diyah Maghrib, yang termasuk dalam 12 rakaat sunnah mu’akkadah yang berjanji surga.

Riwayat ini akan mengantarmu memahami: apa itu sunnah rawatib Maghrib, mengapa ba’diyah-nya begitu istimewa, ada tidaknya qabliyah, dan tata cara praktiknya. Singkat tapi penting—karena banyak muslim Indonesia melewatkan ba’diyah Maghrib hanya karena “buru-buru makan malam”.

Pola Rawatib Maghrib

Mari kita lihat posisi Maghrib di antara shalat-shalat lain yang punya rawatib:

ShalatQabliyahBa’diyahStatus
Subuh2 rakaatMu’akkadah
Dhuhur4 rakaat (2+2)2 rakaatMu’akkadah
Ashar4 rakaat (2+2)Ghairu mu’akkadah
Maghrib2 rakaat (ghairu)2 rakaatBa’diyah mu’akkadah
Isya2 rakaatMu’akkadah

Yang menarik dari Maghrib: dia punya dua tingkat sunnah rawatib—ada qabliyah yang ringan (ghairu mu’akkadah) dan ada ba’diyah yang sangat ditekankan (mu’akkadah). Mari kita bahas satu per satu.

Ba’diyah Maghrib — 2 Rakaat yang Sangat Ditekankan

Inilah inti rawatib Maghrib: 2 rakaat setelah shalat Maghrib. Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah meninggalkannya, baik di rumah maupun saat safar.

Hadits utama tentang keutamaannya:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي اليَوْمِ وَاللَيْلَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa konsisten dengan 12 rakaat (sunnah rawatib) dalam sehari semalam, dia masuk surga.”

— HR. Muslim & At-Tirmidzi —

Dua belas rakaat ini, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits lain, adalah: 2 sebelum Subuh, 4 sebelum Dhuhur, 2 setelah Dhuhur, 2 setelah Maghrib, 2 setelah Isya.

Perhatikan: 2 rakaat ba’diyah Maghrib termasuk di antara 12 rakaat ini. Yang konsisten dengan 12 rakaat ini—termasuk ba’diyah Maghrib—janji Allah adalah surga. Itu deal yang sangat besar untuk waktu yang relatif kecil (sekitar 3-5 menit per shalat sunnah).

Hadits khusus tentang ba’diyah Maghrib:

صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ، صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ، ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ

“Shalatlah sebelum Maghrib, shalatlah sebelum Maghrib (tiga kali), pada yang ketiga beliau berkata: bagi yang mau.”

— HR. Bukhari —

Catatan: hadits di atas tentang qabliyah Maghrib (bukan ba’diyah). Untuk ba’diyah, Rasulullah ﷺ mempraktikkannya sangat konsisten—terlihat dari banyak hadits sahabat yang menyebutkan beliau selalu shalat 2 rakaat di rumah setelah Maghrib.

Surat-Surat yang Dianjurkan di Ba’diyah Maghrib

Rasulullah ﷺ biasa membaca surat-surat khusus di ba’diyah Maghrib. Ini bukan keharusan, tapi mengikuti sunnah Nabi pasti lebih utama daripada bacaan acak.

Surat-surat yang Nabi pilih untuk ba’diyah Maghrib:

Rakaat pertama: Al-Kafirun (“Qul ya ayyuhal-kafirun…”).

Rakaat kedua: Al-Ikhlas (“Qul huwallahu ahad…”).

Pasangan dua surat ini—Al-Kafirun + Al-Ikhlas—adalah “pasangan klasik” yang Nabi pakai di beberapa shalat sunnah, termasuk qabliyah Subuh, ba’diyah Maghrib, dan beberapa shalat sunnah lain. Pesan dua surat ini saling melengkapi: Al-Kafirun menyatakan “perpisahan” dengan kekufuran, Al-Ikhlas menyatakan keesaan Allah.

Keduanya pendek—total tidak lebih dari 30 detik dibaca—cocok untuk shalat sunnah yang waktunya juga pendek.

Untuk yang belum hafal: belajar dulu Al-Kafirun dan Al-Ikhlas (keduanya pendek dan sering didengar). Setelah hafal, pakai pasangan ini setiap ba’diyah Maghrib. Itu mengikuti sunnah Nabi secara langsung.

Di Mana Sebaiknya Ba’diyah Maghrib Dilakukan?

Ini detail kecil tapi penting: Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan shalat sunnah ba’diyah dilakukan di RUMAH, bukan di masjid.

فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ خ َيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

“Kerjakanlah shalat di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.”

— HR. Bukhari & Muslim —

Pesan Nabi sangat jelas: shalat WAJIB di masjid (lebih baik), shalat SUNNAH di rumah (lebih baik). Mengapa?

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah:

Membawa keberkahan ke rumah. Rumah yang sering didirikan shalat sunnah jadi “hidup” secara spiritual, tidak seperti kuburan yang sunyi.

Menghindari riya. Shalat sunnah di rumah lebih tersembunyi, lebih ikhlas, jauh dari pamer.

Menjadi contoh untuk keluarga. Anak yang melihat ayah/ibu shalat sunnah di rumah akan belajar tradisi itu.

Menghidupkan tradisi Nabi. Beliau sendiri sangat konsisten shalat sunnah di rumah, jarang di masjid.

Praktiknya untuk ba’diyah Maghrib: kalau kamu shalat Maghrib di masjid, setelah salam dan dzikir basic, pulang ke rumah dulu, baru lakukan ba’diyah di rumah. Kalau kamu shalat Maghrib di rumah—ba’diyah-nya juga di rumah, tidak perlu pindah tempat.

Bagi yang Maghrib di masjid: ini menjadi alasan kuat untuk segera pulang setelah Maghrib, bukan berlama-lama di masjid. Sunnah ba’diyah menanti di rumah.

Qabliyah Maghrib — Sunnah yang Sering Dilupakan

Selain ba’diyah, ada juga sunnah qabliyah Maghrib—yaitu 2 rakaat sebelum Maghrib. Statusnya ghairu mu’akkadah (tidak ditekankan), tapi tetap dianjurkan dan punya hadits pendukung.

Hadits utamanya:

صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قَالَ: لِمَنْ شَاءَ

“Shalatlah dua rakaat sebelum Maghrib (tiga kali Nabi mengucapkannya, lalu beliau berkata): bagi yang mau.”

— HR. Bukhari —

Kalimat penutup “bagi yang mau” inilah yang membuat ulama menggolongkan qabliyah Maghrib sebagai ghairu mu’akkadah—Nabi tidak mewajibkan, hanya menganjurkan dengan keras.

Praktiknya: kalau kamu sudah selesai wudhu dan adzan Maghrib sudah berkumandang, tapi iqamah belum dikumandangkan (atau kamu di rumah dan belum mau langsung shalat wajib)—lakukan 2 rakaat qabliyah Maghrib. Ringan, cepat, dengan surat pendek apapun yang kamu hafal.

Tapi hati-hati: jendela waktu antara adzan dan iqamah Maghrib sangat pendek (5-7 menit). Kalau kamu di masjid yang iqamah-nya cepat, qabliyah Maghrib bisa terlewat. Solusinya: kalau memang ingin konsisten qabliyah Maghrib, datang ke masjid lebih awal—sebelum adzan. Setelah adzan, langsung lakukan 2 rakaat sebelum iqamah.

Tata Cara Rawatib Maghrib

Tata caranya sama dengan shalat sunnah dua rakaat biasa. Tidak ada yang khusus. Yang berbeda hanya niat:

Untuk ba’diyah Maghrib:

ArabLatinTerjemah
أُصَلِّي سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلَّهِ تَعَالَىUṣallī sunnatal-maghribi rak’ataini ba’diyyatan lillāhi ta’ālāAku shalat sunnah Maghrib dua rakaat ba’diyah karena Allah Ta’ala.

Untuk qabliyah Maghrib (kalau mau):

ArabLatinTerjemah
أُصَلِّي سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلَّهِ تَعَالَىUṣallī sunnatal-maghribi rak’ataini qabliyyatan lillāhi ta’ālāAku shalat sunnah Maghrib dua rakaat qabliyah karena Allah Ta’ala.

Selain niat, semua sama dengan shalat sunnah biasa. 2 rakaat, dengan al-Fatihah dan surat pendek di setiap rakaat. Tasyahud di akhir, salam. Total 3-5 menit.

Tingkat Komitmen Praktis

Sama seperti pola yang sudah dijelaskan di Jilid sebelumnya untuk Ashar, ada tingkatan komitmen yang realistis untuk rawatib Maghrib:

Tingkat 1 — Minimal: Hanya Maghrib wajib. Tidak ada sunnah. Sah dan masih dapat pahala dasar, tapi melewatkan banyak peluang.

Tingkat 2 — Direkomendasikan: Maghrib wajib + 2 rakaat ba’diyah. Inilah yang seharusnya jadi default minimal untuk muslim yang serius. Tambahan waktu: 5 menit. Hasilnya: termasuk dalam 12 rakaat janji surga.

Tingkat 3 — Ideal: Tingkat 2 + 2 rakaat qabliyah Maghrib (sebelum adzan/iqamah). Tambahan waktu: 5 menit lagi. Total komitmen Maghrib: sekitar 25 menit (dari adzan sampai semua sunnah selesai).

Tingkat 4 — Maksimal: Tingkat 3 + dzikir lengkap setelah Maghrib + doa-doa pribadi di waktu mustajab. Total komitmen sore: 30-40 menit.

Untuk pemula yang baru mulai serius dengan shalat, target Tingkat 2 dulu (ba’diyah Maghrib konsisten selama 1 bulan). Setelah itu naik ke Tingkat 3 (tambah qabliyah). Pelan-pelan, tapi konsisten.

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, walaupun sedikit.”

— HR. Bukhari & Muslim —

Hadits ini berulang kali kita kutip di seri ini—karena dia adalah prinsip emas. Lebih baik 2 rakaat ba’diyah Maghrib setiap hari selama setahun, daripada 8 rakaat sunnah sesekali yang tidak konsisten. Yang Allah hargai adalah ketekunan, bukan kuantitas sesaat.