Paham Gerakan dan Makna Bacaan Sholat Memetakan Lanskap Shalat Sunnah

JILID VII


Shalat Sunnah

& Persoalan Modern

Melengkapi Hari, Menyambut Zaman


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا، وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

— QS. Al-Ankabut [29]: 69 —

Pengantar Jilid

Inilah jilid penutup. Enam jilid telah kamu lewati—Bersuci, Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Lima shalat lima waktu telah kamu kenali secara mendalam, dari sisi spiritual, teknis, dan praktisnya. Itu adalah pondasi. Itu adalah kewajiban yang menjadi tiang agama.

Tapi Islam menawarkan jauh lebih banyak dari sekadar shalat wajib. Di antara lima waktu yang Allah tetapkan, ada celah-celah yang Dia buka untuk hamba-Nya mendekat lebih jauh—lewat shalat-shalat sunnah selain rawatib yang sudah kita bahas di jilid-jilid sebelumnya. Shalat Dhuha di pagi yang baru saja matang. Tahajjud di tengah malam yang sepi. Tarawih di Ramadan yang penuh berkah. Shalat Jumat yang menggantikan Dhuhur bagi laki-laki. Shalat Ied yang menutup puasa dan menyambut hari raya. Shalat Istikharah saat butuh petunjuk dalam keputusan besar. Dan banyak lagi.

Shalat-shalat ini bukan kewajiban. Tapi mereka adalah kesempatan. Seperti pintu-pintu tambahan yang Allah buka di rumah-Nya yang besar—semakin banyak pintu yang kamu masuki, semakin dalam kamu masuk ke dalam keridhaan-Nya.

Selain shalat-shalat sunnah, jilid ini juga akan membahas sesuatu yang khas zaman ini: persoalan-persoalan modern yang sering dihadapi muslim Indonesia hari ini. Bagaimana shalat di pesawat saat penerbangan lintas zona waktu? Bagaimana shalat saat work-from-home dengan jadwal meeting yang padat? Bagaimana mengatur shalat saat traveling ke negara non-muslim? Bagaimana hukum shalat berjamaah online lewat Zoom?

Persoalan-persoalan ini tidak ada di kitab-kitab klasik karena memang belum ada. Tapi prinsip-prinsip Islam tetap mampu menjawab semuanya—kalau kita tahu cara mengaplikasikan prinsip-prinsip itu pada konteks baru.

Jilid ini, dengan demikian, punya dua bagian besar. Bagian pertama: shalat-shalat sunnah yang menyempurnakan ibadah harianmu. Bagian kedua: persoalan-persoalan modern yang sering muncul dalam kehidupan muslim Indonesia hari ini.

Kalau jilid-jilid sebelumnya adalah “pondasi rumah”, jilid ini adalah “perabotan dan dekorasi”—yang membuat rumah ibadahmu lengkap dan layak huni. Kalau pondasinya sudah kuat (lima waktu konsisten), barulah perabotannya bermakna. Tapi kalau pondasinya rapuh, perabotan secanggih apapun tidak akan bertahan.

Maka kalau kamu masih belum konsisten dengan shalat lima waktu, pertimbangkan untuk kembali ke Jilid I-VI dulu, perkokoh pondasi, baru lanjut ke jilid ini. Tapi kalau kamu sudah merasa siap, lanjut. Ada banyak peluang spiritual yang menantimu.


RIWAYAT PERTAMA

Memetakan Lanskap Shalat Sunnah


Sebelum kita masuk ke detail masing-masing shalat sunnah, mari kita mulai dengan peta. Karena shalat sunnah dalam Islam itu banyak dan beragam—kalau langsung dibahas satu per satu tanpa peta, kamu bisa kewalahan dan tidak tahu mana yang mau diprioritaskan.

Klasifikasi Shalat Sunnah

Para ulama mengklasifikasikan shalat sunnah berdasarkan beberapa kriteria. Yang paling membantu untuk pemula adalah klasifikasi berdasarkan “penekanan” dan “waktu”:

Berdasarkan penekanan:

Mu’akkadah — sangat ditekankan, hampir wajib. Rasulullah ﷺ hampir tidak pernah meninggalkannya. Contoh: rawatib (yang sudah dibahas), witir, tarawih, dua rakaat sebelum Subuh.

Ghairu mu’akkadah — dianjurkan tapi tidak sangat ditekankan. Rasulullah ﷺ kadang melakukannya, kadang meninggalkannya. Contoh: 4 rakaat sebelum Ashar, 2 rakaat sebelum Maghrib.

Berdasarkan waktu/sebab:

Sunnah harian (rawatib + Dhuha + tahajjud + witir)—dilakukan setiap hari.

Sunnah mingguan (Jumat)—dilakukan setiap minggu.

Sunnah tahunan (Ied, tarawih)—dilakukan setahun sekali atau di Ramadan.

Sunnah situasional (Istikharah, hajat, gerhana, istisqa, tahiyatul masjid)—dilakukan saat ada sebab tertentu.

Klasifikasi ini membantumu memprioritaskan. Yang mu’akkadah lebih penting daripada yang ghairu mu’akkadah. Yang harian lebih sering daripada yang situasional. Kalau kamu pemula, fokus dulu pada yang mu’akkadah harian. Setelah konsisten, baru tambah yang lain.

Daftar Shalat Sunnah Utama

Berikut daftar shalat sunnah yang akan dibahas di Jilid ini—dengan prioritas dari yang paling utama:

Dhuha — di pagi, antara setelah matahari terbit dan sebelum Dhuhur. Sangat dianjurkan, ada hadits tentang “sedekah dari setiap sendi.”

Tahajjud (Qiyamul Lail) — di malam, setelah tidur dan sebelum Subuh. Shalat malam yang paling utama setelah shalat wajib.

Tarawih — di malam Ramadan, setelah Isya. Sunnah mu’akkadah yang khas Ramadan.

Shalat Jumat — pengganti Dhuhur untuk laki-laki, di hari Jumat. Wajib bagi laki-laki yang memenuhi syarat (bukan sunnah teknisnya, tapi sering dikelompokkan dalam pembahasan shalat “khusus”).

Shalat Ied — di Idul Fitri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). Sunnah mu’akkadah yang sangat ditekankan.

Shalat Istikharah — saat butuh petunjuk untuk keputusan penting. Dilakukan kapan saja, dengan doa khusus.

Shalat Hajat — saat ada kebutuhan/permintaan kepada Allah. Bisa kapan saja.

Shalat Tahiyatul Masjid — saat masuk masjid, sebelum duduk. 2 rakaat singkat.

Shalat Gerhana — saat ada gerhana matahari (kusuf) atau gerhana bulan (khusuf).

Shalat Istisqa — saat memohon hujan di musim kemarau panjang.

Total: 10 jenis shalat sunnah utama. Mungkin kelihatan banyak, tapi tidak semuanya dilakukan setiap hari. Yang harian sebenarnya hanya 4: Dhuha, Tahajjud, witir, dan rawatib (yang sudah dibahas). Sisanya situasional.

Strategi Mempelajari Shalat Sunnah

Kalau kamu pemula dan ingin mulai konsisten dengan shalat sunnah, jangan coba pelajari semuanya sekaligus. Lakukan bertahap. Inilah strategi yang aku rekomendasikan:

Fase 1 (Bulan 1-2): Konsisten dengan rawatib mu’akkadah (sudah dibahas di Jilid I-VI). Yaitu: 2 sebelum Subuh, 4 sebelum + 2 setelah Dhuhur, 2 setelah Maghrib, 2 setelah Isya. Total 12 rakaat sehari. Itu pondasi shalat sunnah.

Fase 2 (Bulan 3-4): Tambahkan witir 1 atau 3 rakaat setelah Isya (sudah dibahas detail di Jilid VI). Tetap fokus pada konsistensi.

Fase 3 (Bulan 5-6): Mulai Dhuha 2 rakaat di pagi setelah matahari naik. Lakukan setiap hari. Cukup 2 rakaat saja—jangan langsung 8 rakaat.

Fase 4 (Bulan 7-8): Mulai bangun untuk tahajjud 2 rakaat di sepertiga malam akhir. Pelan-pelan, mungkin awalnya 1-2 kali seminggu, lalu naik ke setiap malam.

Fase 5 (Bulan 9+): Pelajari dan praktikkan shalat sunnah situasional sesuai kebutuhan: Istikharah saat ada keputusan, Hajat saat ada permintaan khusus, Tahiyatul Masjid saat ke masjid, dll.

Setelah sekitar setahun, kamu sudah punya kerangka shalat sunnah yang lengkap dalam hidupmu. Tidak perlu terburu-buru—yang penting konsisten.

Mengapa Shalat Sunnah Penting

Kalau shalat lima waktu sudah cukup untuk menggugurkan kewajiban, mengapa kita perlu shalat sunnah? Ada beberapa hikmah:

Pertama, untuk menambal kekurangan di shalat wajib. Tidak ada shalat wajib yang sempurna 100%—pasti ada kelalaian, ketergesaan, kurang khusyuk. Shalat sunnah berfungsi sebagai “penambal”.

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ

“Sesungguhnya amal pertama yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik shalatnya, dia beruntung dan sukses. Jika rusak, dia merugi. Jika ada kekurangan dari shalat wajibnya, Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku punya shalat sunnah? Sempurnakan dengannya yang kurang dari shalat wajibnya.’”

— HR. At-Tirmidzi (hasan) —

Hadits ini sangat menjelaskan: shalat sunnah adalah “asuransi” untuk shalat wajib. Kalau shalat wajibmu kurang sempurna, Allah pakai shalat sunnahmu untuk menambalnya. Yang tidak punya shalat sunnah—kekurangan di shalat wajib tidak tertambal.

Kedua, untuk mendekatkan diri lebih intim kepada Allah. Shalat wajib adalah “kewajiban”—semua muslim melakukannya. Shalat sunnah adalah “ekspresi cinta”—hanya yang sungguh-sungguh cinta yang meluangkan waktu untuknya. Allah membedakan keduanya.

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidak ada yang lebih dicintai dari hamba-Ku untuk mendekat kepada-Ku selain melakukan apa yang Aku wajibkan. Dan hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amal sunnah, sampai Aku mencintainya.”

— HR. Bukhari (hadits qudsi) —

Hadits qudsi yang sangat indah. Allah berkata langsung: yang ingin Aku cintai—lakukan yang wajib dengan baik, lalu tambahkan yang sunnah. Yang sunnah adalah “jalan langsung” menuju cinta Allah.

Tantangan Shalat Sunnah di Era Modern

Sebelum kita masuk ke detail masing-masing shalat sunnah, izinkan aku jujur: di era modern ini, konsisten dengan shalat sunnah lebih sulit daripada zaman dulu. Mengapa?

Distraksi digital yang luar biasa. Setiap menit luang biasanya “dirampas” oleh notifikasi hp, social media, atau hiburan online. Tidak ada “jeda kosong” yang dulu jadi waktu alami untuk Dhuha atau tahajjud.

Pola tidur yang terganggu. Banyak muslim modern tidur larut (karena Netflix, scroll hp, dll) dan bangun siang. Tahajjud yang dulu “alami” di sepertiga malam akhir, sekarang jadi tantangan besar.

Jadwal kerja yang padat dan tidak fleksibel. Office hour 9-5 + commute panjang membuat sulit untuk Dhuha di pagi atau Tahajjud di malam.

Budaya “produktivitas” yang menempatkan ibadah sebagai opsional. Banyak yang merasa shalat sunnah adalah “buang waktu” yang bisa dipakai untuk kerja atau hiburan.

Tantangan-tantangan ini nyata. Tidak ada gunanya menyangkalnya. Tapi tantangan-tantangan ini juga TIDAK membuat shalat sunnah jadi tidak mungkin—mereka hanya membuat konsistensi lebih sulit. Dan justru karena lebih sulit, pahalanya bisa jadi lebih besar.

أَجْرُكِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ

“Pahalamu sesuai dengan kesusahan (kerja kerasmu).”

— HR. Bukhari & Muslim —

Hadits ini Nabi ucapkan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang ibadah haji. Tapi prinsipnya berlaku untuk semua amal: yang dilakukan dengan kesulitan dapat pahala lebih besar daripada yang dilakukan dengan mudah.

Maka muslim modern yang konsisten Dhuha di tengah meeting, tahajjud di tengah ngantuk akut, atau tarawih setelah hari kerja melelahkan—mereka mungkin dapat pahala yang lebih besar daripada muslim di zaman dulu yang melakukan ibadah-ibadah ini di kondisi yang lebih kondusif.

Pembagian Jilid VII

Jilid ini akan dibagi menjadi dua bagian besar:

Bagian A — Shalat-Shalat Sunnah:

Riwayat II: Shalat Dhuha

Riwayat III: Tahajjud (Qiyamul Lail)

Riwayat IV: Tarawih (Khusus Ramadan)

Riwayat V: Shalat Jumat

Riwayat VI: Shalat Ied (Idul Fitri & Idul Adha)

Riwayat VII: Shalat-Shalat Sunnah Situasional (Istikharah, Hajat, Tahiyatul Masjid, Gerhana, Istisqa)

Bagian B — Persoalan Modern:

Riwayat VIII: Persoalan Modern (Shalat di pesawat, traveling internasional, work-from-home, meeting Zoom, dll) + Penutup Seri.

Setelah Riwayat VIII selesai, seri Panduan Shalat for Newbie ini lengkap. Kamu akan punya peta menyeluruh dari ibadah shalat—dari bersuci sampai shalat-shalat sunnah, dari konsep klasik sampai persoalan modern.

Sebelum Lanjut

Inilah Riwayat pembuka Jilid VII—peta lanskap shalat sunnah yang akan kita jelajahi bersama. Riwayat-riwayat selanjutnya akan masuk ke detail masing-masing shalat sunnah dengan format yang sama dengan jilid-jilid sebelumnya: tata cara, keutamaan, persoalan praktis, kotak khusus.

Sebelum lanjut, satu pengingat: jangan terburu-buru. Shalat sunnah bukan kompetisi siapa yang lebih banyak. Dia adalah jalan untuk mendekat—pelan-pelan, dengan kesungguhan, sesuai kemampuanmu.

Yang Allah hargai bukan jumlah, tapi konsistensi. Yang penting bukan kemegahan, tapi keikhlasan. Yang dicintai bukan kesibukan, tapi kesungguhan.

Mulai dari yang paling mudah. Mulai dari Dhuha 2 rakaat di pagi, atau tahajjud 2 rakaat sebelum Subuh, atau Istikharah saat ada keputusan penting. Pelan-pelan tambah. Pelan-pelan dalami. Tidak ada deadline. Tidak ada ujian akhir.

Karena tujuan akhir bukan untuk “selesai” mempelajari shalat sunnah—tapi untuk membuat shalat sunnah jadi bagian alami dari hidupmu. Sampai mati. Sampai bertemu Allah dalam keadaan masih melakukannya.