Paham Gerakan dan Makna Bacaan Sholat Shalat Ied

RIWAYAT KEENAM

Shalat Ied


Dua hari raya dalam Islam, dua shalat istimewa: Idul Fitri di 1 Syawal yang menutup Ramadan, dan Idul Adha di 10 Dzulhijjah yang menjadi puncak ibadah haji. Inilah dua momen tahunan ketika seluruh umat muslim di dunia—dari Maroko sampai Indonesia—berkumpul untuk satu shalat bersama, dengan tata cara yang sangat khas.

Shalat Ied bukan shalat biasa. Dia dilakukan di lapangan terbuka (kalau memungkinkan), tanpa adzan dan iqamah, dengan tata cara yang spesifik—takbir yang banyak, khutbah yang berbeda dari Jumat, dan suasana yang penuh kegembiraan.

Dua Hari Raya, Dua Karakter Berbeda

Walaupun keduanya sama-sama disebut “Ied” (hari raya), kedua shalat ini punya karakter yang berbeda:

Idul Fitri (1 Syawal):

Menutup Ramadan setelah sebulan puasa, tarawih, dan ibadah intensif.

Suasana: “kemenangan” setelah perjuangan sebulan.

Sebelum shalat: bayar zakat fitrah (kalau belum).

Sebelum berangkat: dianjurkan makan dulu (kurma ganjil, atau makanan ringan).

Karakter takbir: “Allahu akbar, Allahu akbar, lā ilāha illallāh…” yang gembira dan banyak diucapkan dari malam sampai pagi.

Idul Adha (10 Dzulhijjah):

Menutup 10 hari pertama Dzulhijjah—waktu yang Allah cintai (“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dari 10 hari Dzulhijjah”—HR. Bukhari).

Bersamaan dengan jamaah haji yang sedang di Mina.

Setelah shalat: penyembelihan qurban (yang mampu).

Sebelum berangkat: dianjurkan TIDAK makan dulu—baru makan dari daging qurban setelah shalat dan penyembelihan.

Karakter takbir: takbir muqayyad (terikat dengan shalat) dari Subuh 9 Dzulhijjah sampai Ashar 13 Dzulhijjah. Diucapkan setiap selesai shalat fardhu.

Keduanya sama dari sisi tata cara shalat, tapi berbeda dari sisi sunnah-sunnah pengiring dan suasana spiritualnya.

Hukum Shalat Ied

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat Ied:

Mazhab Hanafi: WAJIB bagi yang wajib Jumat.

Mazhab Syafi’i & Maliki: Sunnah mu’akkadah yang sangat ditekankan—hampir wajib.

Mazhab Hanbali: Fardhu kifayah (kalau sudah ada cukup banyak yang shalat, yang lain gugur kewajibannya).

Yang sepakat di semua mazhab: ini adalah shalat yang sangat dianjurkan untuk dihadiri. Bahkan untuk perempuan yang sedang haid atau nifas—mereka tetap dianjurkan datang ke lokasi shalat (tanpa shalat), supaya bisa mendengarkan khutbah dan merayakan bersama umat.

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah memerintahkan kami untuk membawa keluar gadis-gadis dewasa dan perempuan-perempuan yang dipingit, dan memerintahkan perempuan yang haid untuk menjauhi lokasi shalat.”

— HR. Bukhari & Muslim —

Hadits ini menarik: perempuan haid TETAP datang ke lapangan shalat Ied, tapi mereka duduk agak menjauh dari shaf shalat. Mereka tetap mendengar khutbah, tetap merayakan bersama. Hanya tidak ikut shalat itu sendiri.

Persiapan Sebelum Shalat Ied

Yang dianjurkan sebelum berangkat ke shalat Ied:

Mandi besar (junub) di pagi hari Ied—sunnah mu’akkadah.

Pakai pakaian terbaik (yang bersih, baru kalau ada, atau yang paling rapi).

Wangi-wangian/parfum (untuk laki-laki). Untuk perempuan: parfum yang tidak menyengat saat keluar rumah.

Untuk Idul Fitri: makan dulu sebelum berangkat. Beberapa kurma ganjil (3, 5, 7), atau makanan ringan.

Untuk Idul Adha: TIDAK makan dulu. Tunggu sampai selesai shalat.

Berangkat ke lapangan/masjid lebih awal—semakin awal semakin baik.

Berjalan kaki kalau memungkinkan (dianjurkan, kalau jarak tidak terlalu jauh).

Pulang lewat jalan yang berbeda dari jalan berangkat—sunnah.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيَأْكُلُ تَمَرَاتٍ، وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di hari Idul Fitri, dan beliau makan kurma, dimakannya dengan jumlah ganjil.”

— HR. Bukhari —

Detail kecil tapi indah: 3, 5, atau 7 kurma sebelum berangkat Idul Fitri. Konsisten dengan tema witir/ganjil yang sering muncul dalam tradisi Islam.

Tata Cara Shalat Ied

Shalat Ied adalah 2 rakaat berjamaah—tapi dengan tata cara yang sangat berbeda dari shalat lain. Yang paling khas: ada takbir-takbir tambahan di awal setiap rakaat.

Langkah 1. Persiapan

Tidak ada adzan dan iqamah. Hanya pengumuman singkat: “Aṣ-ṣalātu jāmi’ah” (mari shalat berjamaah).

Niat di hati: “Aku shalat sunnah Idul Fitri/Adha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Takbiratul ihram “Allāhu akbar” sambil mengangkat tangan.

Langkah 2. Tujuh Takbir Tambahan di Rakaat 1

Setelah takbiratul ihram, baca doa iftitah.

Lalu tambahkan TUJUH takbir lagi sebelum membaca Al-Fatihah.

Setiap takbir, angkat tangan setinggi bahu, lalu turunkan.

Di antara dua takbir, dianjurkan baca tasbih singkat: “Subḥānallāh, walḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar”

Total takbir di rakaat 1 (termasuk takbiratul ihram): 8 kali. Tapi yang “tambahan” hanya 7.

Langkah 3. Bacaan Al-Fatihah + Surat di Rakaat 1

Setelah 7 takbir, baca Al-Fatihah.

Imam baca dengan jahriyah (keras).

Surat yang dianjurkan: Al-A’la (“Sabbihisma rabbikal-a’lā”) atau Qaf.

Setelah itu ruku, sujud, bangkit—seperti shalat biasa.

Langkah 4. Lima Takbir Tambahan di Rakaat 2

Saat berdiri di rakaat kedua, sebelum membaca Al-Fatihah, tambahkan LIMA takbir lagi.

Setiap takbir, angkat tangan, turunkan, dengan tasbih di antaranya.

Total takbir di rakaat 2: 6 kali (1 takbir berdiri + 5 takbir tambahan).

Langkah 5. Bacaan Al-Fatihah + Surat di Rakaat 2

Setelah 5 takbir, baca Al-Fatihah.

Surat yang dianjurkan: Al-Ghasyiyah (“Hal atāka ḥadītsul-ghāsyiyah”) atau Al-Qamar.

Lanjut ruku, sujud, tasyahud akhir, salam.

Langkah 6. Khutbah Ied

Setelah salam, khatib naik ke mimbar untuk khutbah.

Khutbah Ied berbeda dari Jumat: KHUTBAH DIBACA SETELAH SHALAT (bukan sebelum).

Dua khutbah, dengan duduk sebentar di antaranya.

Tema khutbah: untuk Idul Fitri—pesan tentang taqwa pasca-Ramadan, zakat fitrah, silaturahmi. Untuk Idul Adha—pesan tentang qurban, haji, pengorbanan.

Khutbah Ied hukumnya sunnah—boleh tidak dengar (kalau benar-benar ada keperluan), tapi sangat dianjurkan tinggal sampai selesai.

Total waktu shalat Ied + khutbah: sekitar 25-40 menit, tergantung panjang khutbah.

Catatan tentang Jumlah Takbir

Yang sering jadi pertanyaan: kenapa takbir tambahan 7+5 (bukan 6+6 atau jumlah lain)?

Inilah jumlah yang Rasulullah ﷺ praktikkan menurut hadits sahih:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي عِيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ، سَبْعًا فِي الأُولَى، وَخَمْسًا فِي الآخِرَةِ

“Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir di shalat Ied dua belas kali—tujuh di rakaat pertama dan lima di rakaat kedua.”

— HR. Abu Dawud & Ibnu Majah (shahih) —

Ada beberapa pendapat ulama tentang detail (apakah takbiratul ihram dihitung dari 7, apakah takbir berdiri di rakaat 2 dihitung dari 5, dll). Tapi pendapat mayoritas Syafi’i di Indonesia: 7 takbir tambahan di rakaat 1 (selain takbiratul ihram) + 5 takbir tambahan di rakaat 2 (selain takbir berdiri).

Kalau kamu makmum dan imam pakai pola lain (6 takbir atau lain), ikuti saja imam. Semua pola yang ada landasan haditsnya itu sah.

Takbir Hari Raya

Selain takbir dalam shalat, ada “takbir hari raya” yang dianjurkan diucapkan di rumah, jalan, dan masjid:

Lafal takbir hari raya:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْد

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, Allāhu akbar, wa lillāhil-ḥamd.

(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah segala pujian.)

Kapan diucapkan:

Untuk Idul Fitri (Takbir Mursal—tidak terikat shalat):

Mulai: malam Ied (setelah Maghrib di malam terakhir Ramadan).

Sampai: imam mulai shalat Ied di pagi 1 Syawal.

Diucapkan di rumah, jalan, masjid, terus-menerus.

Untuk Idul Adha (Takbir Muqayyad—terikat dengan shalat fardhu):

Mulai: Subuh 9 Dzulhijjah (hari Arafah).

Sampai: Ashar 13 Dzulhijjah (akhir hari tasyriq).

Diucapkan setelah setiap shalat fardhu lima waktu.

Juga di rumah, jalan, dan masjid antara hari-hari tersebut.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

— QS. Al-Baqarah [2]: 185 —

Ayat ini turun dalam konteks Ramadan. “Mengagungkan Allah” (yaitu takbir) adalah ekspresi syukur atas selesainya puasa—inilah dasar takbir Idul Fitri.

Zakat Fitrah dan Idul Fitri

Salah satu hal khas Idul Fitri yang harus diselesaikan SEBELUM shalat: zakat fitrah.

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Barangsiapa membayarnya sebelum shalat Ied, itu adalah zakat fitrah yang diterima. Dan barangsiapa membayarnya setelah shalat, itu hanya sedekah biasa.”

— HR. Abu Dawud (shahih) —

Ada konsekuensi serius dari telat bayar zakat fitrah. Yang bayar SEBELUM shalat Ied (kapan saja di malam atau pagi Ied)—itu zakat fitrah yang sah. Yang bayar SETELAH shalat—itu sudah bukan zakat fitrah lagi, tapi sedekah biasa. Pahalanya jauh berkurang.

Maka pastikan zakat fitrahmu sudah dibayar sebelum berangkat ke lapangan/masjid pagi itu. Idealnya sudah dibayar di hari-hari terakhir Ramadan.

Idul Adha dan Qurban

Untuk Idul Adha, ada ibadah pengiring yang sangat khas: qurban (penyembelihan hewan).

Beberapa hal penting tentang qurban:

Hukum: sunnah mu’akkadah bagi yang mampu. Bukan wajib (kecuali untuk yang nadzar).

Waktu penyembelihan: SETELAH shalat Ied di 10 Dzulhijjah, sampai sebelum Maghrib 13 Dzulhijjah. Total: 4 hari (10, 11, 12, 13 Dzulhijjah).

Hewan: kambing/domba (1 orang), sapi/kerbau (7 orang patungan), unta (10 orang patungan).

Pembagian daging: 1/3 untuk keluarga sendiri, 1/3 untuk diberikan ke fakir miskin, 1/3 untuk dibagikan ke tetangga/saudara (umum). Pembagian bisa diatur sesuai kondisi.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan berqurbanlah.”

— QS. Al-Kautsar [108]: 2 —

Ayat pendek tapi sangat penting. Dua perintah berurutan: shalat (Ied), lalu berqurban. Inilah urutan yang Allah tetapkan untuk 10 Dzulhijjah.

Persoalan Praktis Muslim Indonesia

Beberapa persoalan khas seputar shalat Ied di Indonesia:

Pertanyaan 1: Saya tinggal di kota kecil yang shalat Iednya di lapangan terbuka. Hujan turun deras. Bagaimana?

Jawab: Boleh dipindah ke masjid terdekat. Bahkan ulama menganjurkan: kalau lapangan tidak memungkinkan (hujan, terlalu panas, dll), pindah ke masjid lebih baik. Shalat tetap sah.

Pertanyaan 2: Saya tidak bisa ke lapangan/masjid karena sakit. Boleh shalat Ied sendiri di rumah?

Jawab: Boleh—kalau benar-benar sakit. Sendiri atau berjamaah dengan keluarga di rumah. Tata cara sama (2 rakaat dengan 7+5 takbir). Tapi tanpa khutbah (khutbah hanya kalau berjamaah besar).

Pertanyaan 3: Saya seorang ibu yang baru melahirkan (nifas). Bagaimana?

Jawab: Perempuan nifas tidak shalat (sama seperti haid). Tapi dianjurkan datang ke lapangan/masjid (duduk agak menjauh dari shaf shalat) untuk merayakan dan mendengar khutbah. Atau, kalau benar-benar tidak bisa—tetap di rumah, ucapkan takbir, dengarkan khutbah lewat siaran. Tidak ada qadha untuk shalat Ied yang ditinggalkan karena udzur ini.

Pertanyaan 4: Saya mualaf, ini Idul Fitri pertama saya. Apa yang harus saya lakukan?

Jawab: Selamat! Persiapannya: malam Ied, ucapkan takbir bersama keluarga atau di rumah. Pagi Ied: mandi besar, pakai pakaian terbaik, makan ringan (3-7 kurma kalau ada), berangkat ke masjid/lapangan terdekat. Tidak perlu khawatir bingung—ikut saja imam. Setelah shalat: silaturahmi, ucapkan salam, dan kalau ada komunitas muslim yang menerimamu untuk makan bersama—ikut. Itu Idul Fitri yang sempurna.

Pertanyaan 5: Bagaimana dengan ucapan selamat Ied? Boleh “Minal aidin wal faizin” atau yang lain?

Jawab: Ucapan yang lebih dianjurkan dari sunnah Nabi adalah “Taqabbalallāhu minnā wa minkum” (Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian). Tapi “Minal aidin wal faizin” yang umum di Indonesia juga tidak salah—maknanya “Termasuk yang kembali (kepada fitrah) dan yang menang”. Yang paling penting bukan kalimatnya, tapi niatnya—saling mendoakan untuk diterima ibadahnya.

Refleksi — Ied Sebagai Momentum

Dua hari raya ini bukan sekadar libur nasional. Mereka adalah momentum spiritual yang Allah berikan untuk umat ini setahun dua kali.

Idul Fitri datang setelah sebulan Ramadan—saat jiwamu sudah “dibersihkan” oleh puasa dan ibadah intensif. Dia adalah “graduation day” tahunan, kelulusan dari sebulan pelatihan spiritual. Yang Ramadan-nya sungguh-sungguh, Idul Fitri terasa sangat manis.

Idul Adha datang di puncak ibadah haji—saat jutaan muslim di Mekah sedang melakukan ritual yang sama yang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lakukan ribuan tahun yang lalu. Dia adalah “global unity day” yang menyatukan umat lintas geografi. Yang berqurban di Indonesia, secara spiritual ikut serta dalam jamaah haji di Mekah.

Kedua hari ini juga adalah “family day”. Mudik di Idul Fitri, kumpul keluarga di Idul Adha, makan bersama setelah shalat. Allah merancang dua hari raya ini sebagai pengikat keluarga muslim yang sering tercerai oleh kesibukan harian.

Maka perlakukan Idul Fitri dan Idul Adha bukan sekadar libur—tapi sebagai dua momen spiritual terbesar tahunan. Datang ke shalat dengan jiwa yang siap. Niat dengan sungguh-sungguh. Khusyukkan saat takbir. Dengarkan khutbah. Silaturahmi setelahnya. Karena dua hari ini hanya datang sekali setahun—dan setiap tahun adalah satu putaran yang tidak akan kembali.