RIWAYAT KETIGA
Tata Cara Shalat Empat Rakaat
Di Jilid II, kamu sudah belajar tata cara shalat dua rakaat lewat Subuh. Di Riwayat ini, kamu akan belajar tata cara empat rakaat—yang berlaku tidak hanya untuk Dhuhur, tapi juga Ashar dan Isya di jilid-jilid mendatang.
Kabar baiknya: 80% dari tata caranya sama dengan Subuh. Yang baru hanya beberapa hal: tasyahud awal di tengah, transisi dari rakaat kedua ke ketiga, dan bacaan setelah al-Fatihah di rakaat 3-4 (yang lebih ringkas). Kalau kamu sudah menguasai Subuh, Dhuhur tinggal menambah beberapa langkah.
Mari kita masuk langkah demi langkah. Untuk hal-hal yang sudah dibahas detail di Jilid II (gerakan ruku, sujud, dll), kita akan singkat saja—dan rujuk ke Jilid II kalau kamu butuh refresher.
Sebelum Mulai — Niat dan Persiapan
Persiapan Dhuhur sama dengan Subuh: wudhu sudah ada, aurat tertutup, menghadap kiblat, waktu sudah masuk. Niatnya, untuk Dhuhur, berbeda hanya di nama shalatnya.
Niat di hati (yang wajib):
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى | Uṣallī farḍaẓ-ẓuhri arba‘a raka‘ātin mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā | Aku shalat fardhu Dhuhur empat rakaat menghadap kiblat, sebagai pelaksanaan kewajiban, karena Allah Ta‘ala. |
Tambahan: kalau jadi makmum, tambahkan “ma’mūman”. Kalau jadi imam, “imāman”. Kalau shalat sendiri, niat di atas sudah cukup.
Rakaat Pertama
Langkah 1. Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, angkat tangan setinggi telinga (laki-laki) atau setinggi dada (perempuan), ucapkan:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| اللَّهُ أَكْبَرُ | Allāhu akbar | Allah Maha Besar. |
Langkah 2. Doa Iftitah
Sama persis dengan Subuh. Pilih salah satu versi yang sudah kamu hafal—boleh “Allāhu akbar kabīrā…” atau “Innī wajjahtu wajhiya…”.
Langkah 3. Ta‘awwudz dan al-Fatihah
Ta‘awwudz (A‘ūdzu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm) hanya di rakaat pertama. Lalu bismillah dan al-Fatihah.
Yang berbeda dari Subuh: untuk Dhuhur, al-Fatihah dibaca dalam hati (sirr)—tidak keras. Kamu tetap menggerakkan lisan, tapi suaranya hanya cukup untuk telingamu sendiri. Inilah yang disebut shalat sirriyah—lawan dari shalat jahriyah (Subuh, Maghrib, Isya yang dibaca keras).
Langkah 4. Surat Pendek setelah al-Fatihah
Bebas, surat apa saja yang kamu hafal. Untuk Dhuhur, dianjurkan surat yang sedang—tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang. Misalnya Al-A‘la, At-Tin, Adh-Dhuha, atau surat-surat juz 30 lainnya.
Sama dengan al-Fatihah, surat pendek juga dibaca dalam hati untuk Dhuhur.
Langkah 5. Ruku dengan Tuma’ninah
Bacaan ruku—Subḥāna rabbiyal-‘aẓīmi wa biḥamdih—dibaca tiga kali (minimal sekali). Tuma’ninah. Sama dengan Subuh.
Langkah 6. I‘tidal
Bangkit dengan “Sami‘allāhu liman ḥamidah”, lalu berdiri tegak dan baca “Rabbanā lakal-ḥamd…”. Tuma’ninah.
Langkah 7. Sujud Pertama, Duduk, Sujud Kedua
Persis sama dengan Subuh. Sujud dengan bacaan Subḥāna rabbiyal-a‘lā wa biḥamdih tiga kali. Duduk antara dua sujud dengan Rabbighfir lī… Sujud kedua. Tuma’ninah di setiap posisi.
Langkah 8. Bangkit ke Rakaat Kedua
Bangkit dengan “Allāhu akbar”. Berdiri tegak. Mulai rakaat kedua.
Rakaat Kedua
Rakaat kedua sama dengan rakaat pertama, kecuali:
• Tidak ada doa iftitah—langsung al-Fatihah.
• Tidak ada ta‘awwudz—langsung bismillah.
• Surat pendek setelah al-Fatihah biasanya yang lebih pendek dari rakaat pertama.
• Setelah sujud kedua, jangan bangkit ke rakaat ketiga. Duduk untuk tasyahud awal.
Langkah 9. Tasyahud Awal
Inilah yang baru di shalat empat rakaat. Setelah sujud kedua di rakaat kedua, duduk dalam posisi iftirasy—kaki kiri dilipat di bawah pantat, kaki kanan ditegakkan dengan jari menghadap kiblat. Tangan diletakkan di paha.
Baca tasyahud awal—hanya bagian pertama saja, tanpa shalawat:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ | At-taḥiyyātul mubārakātush ṣalawātuṭ ṭayyibātu lillāh, as-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh, as-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish-ṣāliḥīn, asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan rasūlullāh | Segala penghormatan yang diberkahi, shalawat, dan kebaikan adalah milik Allah. Salam atas engkau wahai Nabi, rahmat Allah dan berkah-Nya. Salam atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah. |
Setelah “rasūlullāh”, langsung berdiri. Tidak baca shalawat. Tidak baca doa perlindungan. Itu nanti di tasyahud akhir.
Sebagian ulama (Hanafi) menganjurkan shalawat singkat juga di tasyahud awal. Tapi mayoritas (termasuk Syafi‘i) berhenti di syahadat saja, langsung bangkit.
Langkah 10. Bangkit ke Rakaat Ketiga
Setelah selesai tasyahud awal, bangkit dengan “Allāhu akbar”. Saat bangkit, angkat tangan setinggi telinga (ini sunnah, tapi sering dilupakan).
Rakaat Ketiga dan Keempat
Rakaat ketiga dan keempat punya pola yang sedikit berbeda: lebih ringkas dari rakaat 1-2.
Langkah 11. Al-Fatihah Saja, Tanpa Surat
Setelah berdiri di rakaat ketiga, baca ta‘awwudz singkat (boleh diulang), bismillah, lalu al-Fatihah. Tapi—dan ini yang penting—tidak ada surat pendek setelah al-Fatihah di rakaat 3 dan 4.
Cukup al-Fatihah saja. Lalu langsung ruku.
Para ulama menjelaskan: rakaat 3 dan 4 dirancang lebih ringkas karena badan sudah mulai lelah, dan Allah memberi keringanan. Kamu hanya wajib al-Fatihah.
Beberapa ulama (sebagian Syafi‘i, Hambali) mengatakan: boleh juga menambah surat pendek di rakaat 3-4 kalau mau—itu bukan dilarang. Tapi yang lebih masyhur: cukup al-Fatihah saja. Ikuti yang lebih praktis.
Langkah 12. Ruku, I‘tidal, Sujud — Tanpa Perbedaan
Setelah al-Fatihah, ruku seperti biasa dengan bacaan Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm. I‘tidal dengan Sami‘allāhu liman ḥamidah lalu Rabbanā lakal-ḥamd. Sujud, duduk antara dua sujud, sujud kedua—semua dengan bacaan yang sama dengan rakaat sebelumnya. Tuma’ninah di setiap posisi.
Langkah 13. Bangkit ke Rakaat Keempat
Setelah selesai sujud kedua di rakaat ketiga, bangkit ke rakaat keempat. Tidak ada tasyahud di sini—langsung berdiri.
Rakaat keempat sama persis dengan rakaat ketiga: al-Fatihah saja, ruku, i‘tidal, sujud dua kali.
Langkah 14. Setelah Sujud Kedua Rakaat Keempat — Tasyahud Akhir
Setelah sujud kedua di rakaat keempat, duduk untuk tasyahud akhir. Posisinya berbeda dari tasyahud awal: kali ini posisi tawarruk—pantat menyentuh lantai (bukan di atas kaki), kaki kiri dijulurkan di bawah kaki kanan.
Bacaan tasyahud akhir: lengkap dari at-taḥiyyāt sampai akhir, ditambah shalawat, ditambah doa perlindungan.
Langkah 15. Tasyahud Lengkap, Shalawat, dan Doa
Pertama, baca tasyahud (sama dengan tasyahud awal). Setelah itu, langsung shalawat:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ | Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, fil-‘ālamīna innaka ḥamīdum majīd | Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Dan berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarganya, di antara semesta alam. Sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. |
Lalu doa perlindungan—boleh memilih, yang paling masyhur:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ | Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi jahannam, wa min ‘adzābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min fitnatil-Masīḥid-Dajjāl | Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. |
Boleh menambah doa pribadi setelah ini—dalam bahasa apa pun, untuk apa pun yang kamu butuhkan. Sebelum salam adalah momen yang baik untuk berdoa.
Langkah 16. Salam
Setelah selesai semua, ucapkan salam—menoleh ke kanan dulu, lalu ke kiri:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ | Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh | Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian. |
Dhuhur-mu selesai. Empat rakaat lengkap, dari niat sampai salam.
Ringkasan Visual Empat Rakaat
Mari kita ringkas seluruh rangkaian dalam satu tampilan, supaya gampang dilihat:
Rakaat 1:
• Takbiratul ihram → iftitah → ta‘awwudz → al-Fatihah → surat pendek
• Ruku → i‘tidal → sujud → duduk → sujud → bangkit
Rakaat 2:
• Bismillah → al-Fatihah → surat pendek
• Ruku → i‘tidal → sujud → duduk → sujud → duduk tasyahud awal → bangkit
Rakaat 3:
• Bismillah → al-Fatihah saja (tanpa surat)
• Ruku → i‘tidal → sujud → duduk → sujud → bangkit
Rakaat 4:
• Bismillah → al-Fatihah saja (tanpa surat)
• Ruku → i‘tidal → sujud → duduk → sujud → duduk tasyahud akhir → shalawat → doa → salam
Pola yang muncul: rakaat 1 paling “lengkap”, rakaat 2 sedikit lebih singkat (tanpa iftitah dan ta‘awwudz, tapi dengan tasyahud awal di akhir), rakaat 3-4 paling ringkas (cuma al-Fatihah, tanpa surat). Dengan pola ini, total empat rakaat biasanya cukup dalam 5-7 menit untuk shalat tanpa terburu-buru.
Bacaan Keras vs Bacaan Dalam Hati
Salah satu ciri khas yang membedakan Dhuhur dari Subuh: di Dhuhur, al-Fatihah dan surat pendek dibaca dalam hati (sirriyah). Sementara di Subuh, dibaca keras (jahriyah).
Mari kita lihat polanya untuk lima waktu shalat:
• Subuh: jahriyah (keras) — semua bacaannya keras.
• Dhuhur: sirriyah (dalam hati) — semuanya dalam hati.
• Ashar: sirriyah (dalam hati) — sama seperti Dhuhur.
• Maghrib: campuran — rakaat 1-2 keras (jahr), rakaat 3 dalam hati (sirr).
• Isya: campuran — rakaat 1-2 keras, rakaat 3-4 dalam hati.
Apa hikmah perbedaan ini? Para ulama menjelaskan: shalat siang (Dhuhur, Ashar) dibaca dalam hati karena ini waktu di mana lingkungan ramai dan banyak suara—bacaan keras akan tenggelam. Sementara shalat malam (Subuh, Maghrib, Isya) dibaca keras karena malam lebih hening, dan suara bacaan al-Qur’an akan terdengar oleh siapa pun di sekitarnya—termasuk para tetangga, dan inilah salah satu cara mendakwahkan Islam secara halus.
Yang menentukan keras-tidaknya hanya al-Fatihah dan surat pendek. Bacaan-bacaan lain (takbir, doa iftitah, tasbih ruku-sujud, tasyahud) semuanya tetap dibaca dalam hati di semua shalat—kecuali “Sami‘allāhu liman ḥamidah” yang dibaca keras oleh imam, dan salam yang juga dibaca keras.
Dzikir Setelah Dhuhur
Setelah salam, sama seperti shalat lain, ada dzikir yang sangat dianjurkan. Pola lengkapnya sama dengan Subuh—aku ulang singkat di sini supaya kamu tidak perlu bolak-balik ke Jilid II:
Langsung setelah salam:
| Arab | Latin | Terjemah |
|---|---|---|
| أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ | Astaghfirullāh (3×). Allāhumma antas-salām wa minkas-salām, tabārakta yā dzal-jalāli wal-ikrām | Aku memohon ampun kepada Allah (3×). Ya Allah, Engkau Yang Maha Sejahtera, dan dari-Mu kesejahteraan, Maha Berkah Engkau wahai Pemilik kebesaran dan kemuliaan. |
Lalu dzikir 100×:
• Subḥānallāh — 33×
• Alḥamdulillāh — 33×
• Allāhu akbar — 33×
• Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah… — 1× (versi panjang)
Tambahan yang sangat dianjurkan setelah Dhuhur: ayat Kursi (Al-Baqarah: 255). Membacanya setelah setiap shalat fardhu adalah amalan yang Rasulullah ﷺ janjikan: dia akan menjadi salah satu sebab masuk surga.
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ، لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ
“Barangsiapa membaca ayat Kursi di akhir setiap shalat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.”
— HR. An-Nasa’i, dishahihkan Al-Albani —
Membaca ayat Kursi butuh sekitar 20-30 detik. Sangat singkat. Tapi efeknya untuk akhirat—mungkin lebih dari yang bisa kita bayangkan.